Menkeu Sri Mulyani MI/SUSANTO.
Menkeu Sri Mulyani MI/SUSANTO.

Menkeu Tegaskan Utang RI Masih Baik-Baik Saja

Ekonomi ekonomi indonesia
Husen Miftahudin • 22 Januari 2019 18:32
Jakarta: Dana Moneter Internasional alias International Monetary Fund (IMF) meminta negara-negara di dunia memangkas utang pemerintahnya guna meminimalisasi risiko ketidakpastian di pasar keuangan global. Terlebih IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,5 persen di 2019.
 
Menanggapi hal itu, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyebutkan saat ini utang Pemerintah Indonesia masih aman. Rasio utang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) berada di level 30 persen. Sehingga, tak relevan jika Indonesia diminta mengurangi utang pemerintah.
 
"Indonesia kalau Anda bandingkan, utang kita terhadap PDB masih di 30 persen. Untuk standar internasional itu rendah sekali," ujar Sri Mulyani dalam diskusi Forum A1 di Restoran Tjikini Lima, Jalan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa, 22 Januari 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, realisasi defisit anggaran Indonesia pada 2018 hanya Rp259,9 triliun atau 1,76 persen dari PDB. Apalagi, pertumbuhan ekonomi RI di atas lima persen.
 
"Indonesia sekarang growth-nya sudah di atas lima persen dan defisitnya di bawah dua persen. Jadi enggak relevan buat Indonesia untuk ikuti statement (IMF memangkas utang pemerintah) itu," tegas dia.
 
Menurut Sri Mulyani, imbauan IMF lebih menyasar kepada negara-negara yang memiliki rasio utang terhadap PDB di atas 60 persen. Karena dengan memangkas utang, negara tersebut bisa memberikan ruang fiskal untuk melawan pelambatan ekonomi dunia.
 
"Waktu kemarin di Annual Meeting juga disampaikan ada lebih dari 40 negara low income country yang sekarang utangnya tidak sustainable, di atas 100 persen. Negara-negara advance country seperti di Eropa yang debt to GDP ratio itu sudah di atas 60 persen, ada yang 80 persen, bahkan 100 persen. Negara-negara seperti itu mereka pasti melakukan konsolidasi fiskal," jelasnya.
 
Sri Mulyani menyebutkan, imbauan IMF untuk mengurangi utang pemerintah berlaku bagi negara seperti Italia. Negeri Piza itu diketahui punya defisit anggaran mencapai dua persen dan rasio utang terhadap PDB di atas 60 persen.
 
"Italia itu yang menjadi sorotan. Italia itu debt to GDP ratio-nya di atas 100 persen, tapi dia ingin defisitnya di atas 2,4 persen," imbuh dia.
 
Menurutnya, pernyataan IMF untuk mengurangi utang pemerintah relevan bagi Italia. Sebab, negara seperti itu harus menjaga keseimbangan fiskalnya dengan mengurangi utang pemerintah sehingga defisit anggarannya terjaga.
 
"Jadi bagaimana mereka mengurangi defisit dan utangnya tanpa membuat growth-nya juga melemah. Karena kalau growth-nya melemah utangnya juga menurun maka rasio utangnya juga tidak akan menurun," pungkas Sri Mulyani.
 


 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi