BPS: Rendahnya Inflasi Ramadan Bukan karena Penurunan Daya Beli
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto (tengah). (FOTO: Medcom.id/Eko Nordiansyah)
Jakarta: Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut rendahnya inflasi pada periode Ramadan tahun ini bukan disebabkan oleh rendahnya daya beli masyarakat. Meskipun inflasi ramadan tahun ini jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan inflasi ramadan pada tahun lalu dan 2016.

"Angka (inflasi) 0,21 persen itu yang tidak biasa adalah volatile food pada bulan ini memang betul-betul sangat terkendali," kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Dr Sutomo, Jakarta Pusat, Senin, 4 Juni 2018.

Secara komponen, inflasi inti tercatat sebesar 0,21 persen, harga yang diatur pemerintah (administered price) 0,27 persen, dan pangan bergejolak (volatile food) 0,19 persen. Suhariyanto menyebut inflasi inti memberi andil cukup besar terhadap inflasi mencapai 0,12 persen.

Dirinya menambahkan, peran pemerintah dalam mengendalikan harga bahan pokok cukup baik dalam menjaga inflasi pada level yang rendah. Bahkan beberapa komoditas pangan yang biasanya mengalami inflasi kini tercatat deflasi, seperti beras, cabai merah, cabai rawit, dan bawang putih.

"Jadi saya tidak melihat ini seagai pertanda perlambatan konsumsi, tapi karena harga barang bergejolaknya terkendali. Seperti beras yang mengalami penurunan, biasanya naik. Tapi yang perlu diwaspadai adalah inflasi dari daging ayam ras dan telur," jelas dia.

Pada Mei 2018 inflasi tercatat sebesar 0,21 persen, dengan inflasi tahun kalender (ytd) 1,30 persen dan inflasi tahun ke tahun (yoy) 3,23 persen. Inflasi Ramadan 2018 jauh lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang tercatat 0,39 persen dan inflasi Ramadan 2016 sebesar 0,66 persen.

 



(AHL)