Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Ilustrasi. Foto: Medcom.id

Indonesia Dinilai Lebih Siap Hadapi Tapering The Fed

Ekonomi The Fed Ekonomi Indonesia Ekonomi Global Stimulus Ekonomi Imbas Korona
Husen Miftahudin • 24 September 2021 12:00
Jakarta: DBS Group Research menilai dampak rencana pengurangan stimulus (tapering) oleh bank sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve tahun ini lebih kecil dibandingkan taper tantrum yang terjadi pada 2013. Indonesia berada pada posisi baik untuk bertahan melawan risiko tersebut.
 
Dalam hasil penelitian DBS Group Research, defisit transaksi berjalan Indonesia yang pada kuartal II-2021 sebesar 0,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih kecil dibandingkan 2013 lalu yang mencapai 3,8 persen terhadap PDB.
 
"Sementara, neraca ekspor dan impor barang kemungkinan akan tetap surplus bersih pada tahun ini, mengimbangi penerimaan pariwisata lebih lemah dan arus keluar pendapatan utama," demikian penelitian DBS Group Research yang dikutip Jumat, 24 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selain itu, lonjakan surplus dagang sebesar 70 persen year on year (yoy) pada Januari-Juli 2021, Agustus mencatat rekor surplus sebesar USD4,7 miliar karena ekspor diuntungkan oleh kenaikan harga komoditas global yang meningkat sebanyak 64 persen (yoy), ditopang migas dan pertambangan.
 
Inflasi juga berkisar di bawah target tahun ini, dibandingkan dengan 6-7 persen pada 2013. Kondisi ini menjaga suku bunga riil di medan positif dan mengurangi kebutuhan bagi Bank Indonesia untuk menjalankan dan menormalkan kebijakan menjelang rencana pengurangan pembelian aset oleh The Fed.
 
Stok cadangan mata uang asing kuat, sebesar USD144 miliar karena dibantu oleh alokasi hak penarikan khusus Dana Moneter Internasional (IMF) pada Agustus. Sedangkan pada 2013, bantuan IMF kepada BI kurang dari USD100 miliar.
 
Di sisi lain, pangsa investor asing dalam kepemilikan obligasi yang beredar telah turun dari 36-38 persen pada 2013 menjadi di bawah 22 persen pada tahun ini, menurunkan kerentanan pasar utang domestik terhadap risiko arus keluar tajam dana asing.
 
Pada saat yang sama, kepemilikan obligasi investor domestik telah meningkat menjadi lebih dari 50 persen, terdiri atas terutama BI dan bank komersial, sehingga memberikan stabilitas pada aktivitas perdagangan.
 
Selain pembeli institusional lain, pajak penghasilan atas bunga obligasi untuk investor domestik juga telah diturunkan menjadi 10 persen, setara dengan tarif yang dinikmati oleh investor asing, dalam upaya untuk menarik lebih banyak minat ke ruang utang.
 
"Meski demikian, untuk sementara ruang pasar berkembang Asia kemungkinan akan merasakan dampak dari penguatan dolar AS dan tingkat dolar AS yang lebih tinggi saat pengurangan pembelian aset berlangsung. Namun, dengan alasan di atas menunjukkan bahwa reaksi aset keuangan Indonesia tidak akan terlalu negatif dibandingkan dengan delapan tahun lalu," tutup penelitian DBS Group Research.
 
(DEV)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif