BKF: Rupiah Anjlok Berpotensi Dorong Ekspor
Ilustrasi (MI/SUSANTO)
Jakarta: Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkapkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) yang saat ini di bawah nilai wajar adalah sumber potensi yang harus dimanfaatkan untuk mendorong ekspor. Jangan hanya melihat pelemahan nilai tukar rupiah dari sudut negatif semata.

"Perbandingan kurs dengan negara lain dalam konteks daya beli, sesungguhnya kurs kita di bawah nilai wajar yang ditunjukkan dengan Real Effective Exchange Rate (REER) yang dibawah 100," ujar Kepala BKF Kemenkeu Suahasil Nazara, seperti dikutip dari Antara, di Jakarta, Kamis, 1 November 2018.

Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu sore menguat sebanyak 36 poin menjadi Rp15.199 per USD dibandingkan posisi sebelumnya Rp15.235 per USD. Sedangkan kurs tengah Bank Indonesia mencatat rupiah menguat menjadi Rp15.227 per USD.

"Kalau ia semakin jauh undervalued-nya, ada insentif untuk investor masuk ke mata uang yang undervalued tadi. Ini kemudian di sisi lain kalau undervalued seperti ini, itu juga disinsentif untuk melakukan impor dan harusnya juga ada insentif untuk melakukan ekspor," kata Suahasil.

Dalam APBN 2019 yang baru saja disahkan Rabu kemarin dalam Rapat Paripurna DPR, asumsi nilai tukar rupiah terhadap USD ditetapkan yaitu Rp15.000 per USD. Asumsi kurs mengalami perubahan signifikan dari draf awal yang ditetapkan sebesar Rp14.400 per USD, mengingat masih tingginya ketidakpastian global pada 2019.

"Tahun depan kita yakin kurs akan bergerak lagi. Tapi angka Rp15.000 itu sebagai angka rata-rata dalam keseluruhan tahun," ujar Suahasil.

Sementara itu, darI sisi pertumbuhan ekonomi, pada 2019 ekonomi ditargetkan tumbuh mencapai 5,3 persen. Untuk mencapai angka tersebut, konsumsi Rumah Tangga (RT) harus tumbuh 5,1 persen, konsumsi pemerintah 5,4 persen, dan investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh tujuh persen.

Sedangkan ekspor dan impor masing-masing harus tumbuh 6,3 persen dan 7,1 persen. Namun tidak menampik ekspor akan sedikit melemah dan impor juga akan menurun karena upaya pemerintah mengendalikan defisit transaksi berhajalan.



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id