Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Medcom/Desi.
Vice President Economist Permatabank Josua Pardede. Medcom/Desi.

Ekonom: Bank Dunia Pangkas Proyeksi Ekonomi RI Akibat Infrastruktur

Ekonomi infrastruktur ekonomi indonesia
Desi Angriani • 02 Juli 2019 19:34
Jakarta: Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 menjadi sebesar 5,1 persen dari sebelumnya 5,2 persen. Revisi proyeksi ekonomi Indonesia ini didasarkan pada kondisi eksternal dan internal.
 
Vice President Economist Permatabank Josua Pardede mengatakan tren perlambatan investasi infrastruktur menjadi salah satu alasan Bank Dunia merevisi proyeksinya. Sebab, pertumbuhan ekonomi RI nantinya hanya akan mengandalkan konsumsi rumah tangga.
 
"Proyek infrastruktur nasional sudah hampir selesai semua sehingga faktor pendorong dari sisi investasi semakin berkurang. Dengan begitu, pertumbuhan kita tahun ini mengandalkan konsumsi rumah tangga," katanya saat ditemui di Ballroom Hotel Westin, Rasuna Said, Jakarta, Selasa, 2 Juli 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan mengandalkan konsumsi rumah tangga tersebut, setidaknya ekonomi Indonesia tetap tumbuh di angka 5,1 persen. Perlambatan pertumbuhan ekonomi dalam negeri, lanjutnya, juga terjadi pada Tiongkok, Eropa hingga Amerika Serikat (AS).
 
Hal ini juga didorong oleh eskalasi perang dagang antara AS dan Tiongkok yang turut menggoncang kinerja negara-negara emerging market termasuk Indonesia.
 
"AS dengan cost of borrowing yang cukup mahal sehingga sektor riil dan juga dampak dari stimulus fiskal hampir habis dan ekonomi AS pun cenderung melambat ditambah lagi dengan memanasnya perang dagang akan membatasi kinerja ekspor negara-negara di Asia ataupun di meerging market termasuk Indonesia," pungkas dia.
 
Bank Dunia sebelumnya memprediksi ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,1 persen pada 2019, kemudian naik menjadi 5,2 persen pada 2020. Proyeksi ini didukung oleh konsumsi masyarakat, yang diperkirakan akan terus meningkat karena inflasi tetap rendah dan pasar tenaga kerja yang kuat.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif