Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi. Foto: Medcom.id/Marcheilla Ariesta.

Perekonomian Cukup Kukuh di Setahun Jokowi-Ma'ruf

Ekonomi jokowi Ekonomi Indonesia 1 Tahun Pemerintahan Jokowi-Maruf
Media Indonesia.com • 21 Oktober 2020 12:20
Jakarta: Kabinet Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma'ruf Amin sejatinya dimulai dengan ekspektasi masyarakat yang tinggi. Di antara jalinan ekspektasi tinggi tersebut, ekspektasi terhadap perbaikan ekonomi Indonesia terbilang cukup dominan.
 
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastiadi menuturkan, memasuki masa awal kabinet, dengan menggunakan analisis sentimen publik berbasis artificial intelligence (AI) Next Policy, menemukan lonjakan (spike) sentimen positif pada hari kabinet Jokowi 2.0 diumumkan.
 
Sebanyak 10.601 tweet menunjukkan sentimen positif atas kondisi perekonomian di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih masuk labirin sekitar lima persen ditopang semangat dan ekspektasi positif di masa awal kabinet diumumkan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perekonomian Indonesia tampak cukup kukuh memasuki awal 2020. Angka purchasing manager index (PMI) berangsur membaik bahkan mencapai titik tertinggi selama beberapa tahun terakhir (51,9) di Februari," jelas dia, dikutip dari Mediaindonesia.com, Rabu, 21 Oktober 2020.
 
Selanjutnya, dorongan kuat dari sisi industri ini pada gilirannya mendorong surplus neraca dagang di bulan yang sama. Nilai ekspor Indonesia Februari 2020 meningkat 2,24 persen secara bulanan dan 11 persen secara tahunan.
 
Bulan ini ialah kali pertama surplus neraca dagang dalam beberapa tahun terakhir, yang terjadi bukan karena pertumbuhan impornya yang turun lebih dalam jika dibandingkan dengan ekspornya, melainkan karena memang ada geliat ekspor yang positif.
 
"Sejatinya tidak ada jalan pintas untuk membenahi defisit neraca dagang. Ini lebih ke permasalahan industri, yang mengalami gejala penurunan kontribusi yang prematur, serta produktivitas tenaga kerja yang alih-alih tumbuh mengangkasa malah stagnan," ujarnya.
 
Untuk memperbaiki industri, perlu infrastruktur yang memadai. Untuk hal ini, dirinya mengaku cukup tenang karena pemerintah sudah mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tanda-tanda perbaikan kinerja industri dan perdagangan sudah mulai tampak sejak awal tahun.
 
Menurut dia pekerjaan rumah terberat, justru, pada peningkatan kualitas pendidikan yang terkoneksi erat dengan kebutuhan industri, dan peningkatan produktivitas. Ini yang sebenarnya coba dituntaskan beleid omnibus law meski tentu dengan ragam catatan.
 
"Sayangnya momentum ini harus dihantam pandemi covid-19. Sebagaimana yang kita ketahui, pandemi ini memberikan guncangan besar terhadap perekomian dunia, Indonesia tidak terkecuali. Masalahnya, covid-19 ini semakin memberikan tekanan pada sisi supply yang memang sudah bermasalah, bahkan, sejak beberapa tahun terakhir," jelasnya.
 
Dia mengatakan fenomena ini cukup memberi masalah karena tekanan berlebihan pada sisi supply ini, kemudian memberikan tekanan lintas sektor, sebagai akibat dari sisi demand yang juga ikut terdampak. Akibatnya, efek domino terjadi, semua sektor ekonomi tanpa terkecuali akan terdampak cukup signifikan.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif