Illustrasi. Foto : Setkab.
Illustrasi. Foto : Setkab.

Kupon Bunga Terpangkas, Minat Investor SBN Ritel Menyusut

Ekonomi surat berharga negara
Desi Angriani • 05 September 2019 19:40
Jakarta: Minat investor dalam negeri terhadap obligasi tabungan ritel tercatat turun sejak penerbitan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005. Tren penurunan itu terjadi seiring penyusutan tingkat kupon atau bunga mengambang yang ditawarkan pemerintah.
 
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Luky Alfirman menilai tren penurunan tersebut wajar lantaran investor dalam negeri masih sensitif terhadap imbal hasil.
 
"Kita juga melakukan studi dan pengalaman, Indonesia masih sensitif terhadap imbal hasil," ujar Luky usai peluncuran SBR008 di Patio Venue & Dining, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis, 5 September 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mencontohkan minat investor tertinggi tercatat pada SBR004 dengan nilai Rp7,3 triliun. Dalam obligasi tabungan ritel itu pemerintah menawarkan kupon bunga mengambang sebesar 8,05 persen disaat bunga acuan Bank Indonesia berada di level 5,5 persen.
 
Selanjutnya, SBR005 juga mencatatkan investasi tertinggi kedua sebesar Rp4 triliun dengan jumlah investor sebanyak 16,966. Dengan bunga acuan BI di level 6 persen, pemerintah menawarkan kupon bunga mengambang sebesar 8,15 persen.
 
Sementara itu, nilai investasi terendah terjadi saat penerbitan SBR003 atau penawaran obligasi tabungan ritel pertama pada Mei 2018 lalu. Pemerintah hanya meraup Rp1,93 triliun dengan total 7,636 investor. Saat itu pemerintah menawarkan bunga mengambang sebesar 6,8 persen lantaran bunga acuan BI berada di level 2,55 persen.
 
"Likuiditas awal tahun selalu banyak, kemudian lihat musimnya habis lebaran orang engga minat investasi, kebetulan mereka yang mau investasi mengecil dan menurun," imbuh dia.
 
Meski demikian, Luky optimistis minat investor ritel tetap tinggi lantaran pemerintah menawarkan format bunga mengambang. Artinya, tingkat bunga kupon yang diberikan mengikuti tingkat bunga acuan Bank Indonesia. Jika Bi rate dipangkas, investor tetap menikmati bunga yang ditawarkan. Sebaliknya, saat bunga acuan bank sentral naik, tingkat bunga kupon juga akan disesuikan.
 
"BI kan turunkan bunga acuannya maka kami turunkan tapi formatnya tetap bunga mengambang dengan acuan bi BI rate. Skema ini akan sangat menarik bagi investor," ungkapnya.
 
Untuk SBR006, pemerintah meraih investasi sebesar Rp2,26 triliun atau turun dari sebelumnya dengan jumlah 9,520 investor. Kupon bunga SBR006 yang ditawarkan ialah 7,95 persen dengan BI rate sebesar enam persen.
 
Sementara itu, nilai investasi dari penerbitan SBR007 sedikit mengalami kenaikan yakni Rp3,22 triliun. Jumlah investornya mencapai 15,023 orang dengan kupon 7,5 persen saat BI rate di level enam persen. Adapun mayoritas investor berasal dari kalangan milenial. Namun secara nominal didominasi kaum tradisionalis dan baby boomer. Rata-rata pembelian obligasi tabungan ritel di atas Rp1 miliar.
 
Dari segi wilayah, investor terbanyak berasal dari DKI Jakarta dengan 19,320 investor. Disusul Indonesia bagian Barat selain DKI sebanyak 31,230 investor, Indonesia Tengah 4,635 sebanyak investor, dan Indonesia Timur sebanyak 365 investor.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif