Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri - - Foto: Antara/ Fanny Octaviannus
Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri - - Foto: Antara/ Fanny Octaviannus

Kunci Supaya RI Dilirik Investor

Ekonomi Investasi Asing Omnibus Law
Eko Nordiansyah • 28 Juli 2020 17:42
Jakarta: Indonesia memiliki peluang besar untuk menarik relokasi investasi dari Tiongkok. Kuncinya tergantung pada bagaimana pemerintah menyelesaikan aturanomnibus lawyang kini masih dibahas di DPR.
 
Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan sejumlah perusahaan Jepang tengah mendiversifikasi investasinya agar tidak bergantung pada Tiongkok. Peluang ini perlu dimanfaatkan oleh Indonesia, agar investor masuk.

 
"Pertanyaannya adalah apakah relokasi ini akan masuk Vietnam, akan masuk Malaysia, akan masuk Singapura atau kita? Itu yang akan tergantung dari apakahomnibus law-nya beres atau enggak padahal kesempatannya ada," katanya dalam webinar di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Chatib menceritakan investor kini mulai memikirkan untuk tidak menempatkan investasinya hanya di Tiongkok saja. Mereka akan mencari negara lain yang dinilai aman untuk berinvestasi, sehingga ada diversifikasi ketika masalah seperti pandemi muncul kembali.
 
"Don't put all your eggs in one basket, sehingga yang akan terjadi adalah dinavigasi, orang itu akan keluar dari Tiongkok karena begitu berbahayanya kalau menempatkan seluruh investasinya di Tiongkok. Kalau satu negara itu kena, satuglobal supply chainkena," ungkap dia.
 
Saat menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada 2012-2013 lalu, Chatib berhasil membujuk Toyota untuk investasi di Indonesia. Pasalnya pada saat perusahaan otomotif Jepang itu ingin investasi di Thailand, terjadi banjir besar sehingga mereka memutuskan membangun basis produksinya di Cikarang.

 
"Kita datang ke Tokyo meyakinkan Toyota pindah ke Indonesia dan mereka melihat memang harus dilakukan diversifikasi. Lesson learn ini saya percaya akan terjadi dan proses ini sudah mulai terjadi, investasi Jepang mulai keluar dari Tiongkok. Bukan karena mereka enggak senang dengan Tiongkok tapi dia harus mendiversifikasi portofolio atau basis dari investasinya. Di sini ada peluang dari Indonesia," pungkasnya.
 

(Des)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif