Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

BI Prediksi Inflasi Akhir 2019 di Bawah 3,5%

Ekonomi inflasi bank indonesia
Nia Deviyana • 01 Maret 2019 16:12
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi pada akhir tahun ini lebih rendah dari 3,5 persen. Optimisme BI merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan terjadinya deflasi pada Februari 2019 sebesar 0,08 persen atau 2,57 persen secara tahun ke tahun atau year on year (yoy).
 
Angka ini positif dibandingkan inflasi Januari sebesar 0,32 persen atau 2,87 persen (yoy). "Ini sejalan dengan survei pemantauan harga yang kami sampaikan sebelumnya, bahwa memang harga-harga terkendali untuk memenuhi kebutuhan masyarakat," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Perkantoran Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.
 
Perry mengatakan semua komoditas khususnya bahan makanan mengalami penurunan harga, mulai dari daging ayam, cabai merah, telur, hingga bawang. Begitu juga dengan administered prices atau harga yang diatur pemerintah masih terkendali.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Ini tentunya berkat koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, BI, dan berbagai pihak," tambah Perry.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada Februari 2019 Indonesia deflasi sebesar 0,08 persen. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti mengatakan bahwa dari 82 kota cakupan perhitungan inflasi, sebanyak 69 kota deflasi, sementara 13 kota inflasi.
 
Adapun deflasi tertinggi terjadi di Merauke sebesar 2,11 persen dan deflasi terendah terjadi di Serang 0,02 persen. Sedangkan inflasi tertinggi di Tual 2,98 persen dan inflasi terendah terjadi di Kendari 0,03 persen.
 
"Deflasi tertinggi di Merauke karena penurunan harga sayuran dan cabai. Sedangakan inflasi tertinggi di Tual karena kenaikan harga sayuran bayam dan ikan," jelas Yunita.
 
Berdasarkan kelompoknya, BPS mencatat bahan makanan mengalami deflasi 1,11 persen. "Ini satu-satunya yang mengalami deflasi. Yang lainnya mengalami inflasi," ucap Yunita.
 
Bahan makanan memberikan andil deflasi 0,24 persen. Komoditas yang memberikan sumbangan deflasi adalah daging ayam ras, cabai merah, telur ayam, ras, bawang merah, cabai rawit, ikan segar, wortel, dan jeruk. Sedangkan dari bahan makanan yang andil dalam inflasi antara lain beras mi kering instan dan bawang putih.
 
Untuk kelompok makan jadi, minuman, rokok dan tembakau BPS mencatat inflasi 0,31 persen. Kelompok rumah, listrik, dan bahan bakar tercatat inflasi 0,25 persen. Kemudian, kelompok sandang inflasi sebesar 0,27 persen, kelompok kesehatan 0,36 persen, dan kelompok pendidikan rekreasi dan olahraga inflasi 0,11 persen, serta kelompok transportasi inflasi 0,05 persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif