Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Kadin Sebut Penguatan USD Tingkatkan Nilai Ekspor

Ekonomi ekspor rupiah menguat kadin
Suci Sedya Utami • 26 Januari 2017 12:13
medcom.id, Jakarta: Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia memperkirakan Federal Reserve atau the Fed akan menaikkan tingkat suku bunganya sebanyak 3-5 kali di sepanjang 2017 ini. Adapun hal itu akan menimbulkan sebuah risiko karena bisa berdampak terjadinya capital outflow dari negara berkembang termasuk di Indonesia.
 
Bahkan, apabila the Fed menaikkan Fed Fund Rate (FFR) maka dolar Amerika Serikat (USD) yang selama ini berada di negara berkembang akan kembali ke negara asalnya. Artinya, suplai USD di dunia utamanya di negara berkembang akan semakin terbatas sehingga membuat harga USD mahal terhadap mata uang lainnya.
 
Namun, Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani menilai, sebenarnya penguatan USD berdampak baik dari aspek perdagangan. Pasalnya, nilai ekspor Indonesia tentu akan lebih tinggi karena adanya penguatan USD. Dengan USD menguat dan melemahkan nilai tukar rupiah maka membuat harga produk ekspor lebih murah.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Pengetatan Moneter AS Bikin USD Kembali ke Negara Asal
 
"Membuat barang kita jadi lebih murah sehingga ekspor lebih mudah ke negara lain," kata Rosan, dalam CIMB Niaga Economic Forum 2017, di Ritz Carlton PP, Jakarta Selatan, Kamis (26/1/2017).
 
Sebelumnya, Rosan mengatakan, kebijakan fiskal ekspansif dan moneter ketat yang dijalankan Amerika Serikat (AS) akan membuat mata uang USD pulang kampung. Salah satu yang akan membuat USD menguat yakni kenaikan suku bunga AS. Kadin memperkirakan the Fed bakal menaikkan tingkat suku bunga sekitar 75-150 basis poin pada tahun ini.
 
Baca: Kadin Kepri Minta Pemerintah Tingkatkan Daya Saing
 
Selain itu, kebijakan proteksionis di bidang fiskal yang bakal diterapkan Presiden AS Donald Trump untuk memberikan pinalty berupa pajak bagi perusahaan yang tak membangun pabrik di dalam negeri mau tidak mau membuat USD kembali ke negara asalnya.
 
"Dampaknya ke Indonesia, dana akan kembali ke AS, maka akan terjadi penguatan USD. Kemungkinan besar rupiah tertekan, bahkan tidak heran (nanti) bisa di level Rp14.000 per USD," kata Rosan.
 

 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif