Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Gubernur BI: Inflasi 0,68% Akibat Kenaikan Harga Beberapa Komoditas

Ekonomi inflasi bps
Husen Miftahudin • 10 Juni 2019 15:32
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui harga-harga pangan selama Ramadan mengalami kenaikan. Hal itu terlihat dari laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat tingkat inflasi pada Mei 2019 sebesar 0,68 persen atau naik dari tingkat inflasi di bulan sebelumnya sebesar 0,44 persen.
 
"Itu biasa memang di Ramadan itu memang sedikit lebih tinggi dari yang kita perkirakan. Memang ada beberapa komoditas seasonal (musiman) itu memang lebih tinggi dari perkiraan," ujar Perry di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, 10 Juni 2019.
 
Perry menyebut angka inflasi Mei 2019 meleset dari perkiraan. Padahal bank sentral melalui Survei Pemantauan Harga (SPH) hingga pekan keempat Mei 2019 menunjukkan tingkat inflasi berada pada posisi 0,47 persen secara bulanan atau month to month (mtm).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tapi kami menyakini ini adalah musiman, musiman Lebaran. Kami masih meyakini ke depan itu inflasi akan rendah dan terkendali," tegas Perry.
 
Keyakinan Perry disokong tiga faktor pengendali inflasi. Pertama, ia melihat ekspektasi pasar yang masih berjalan dengan baik.
 
Kemudian kedua, pasokan barang dan jasa yang dinilai mencukupi. Ketiga, eratnya koordinasi antara BI dan pemerintah baik dari respons kebijakan maupun melalui koordinasi lewat Tim Pengendali Inflasi (TPI).
 
"Insyallah inflasi ke depan akan rendah dan terkendali. Perkiraan kami akan mendekati 3,2 persen atau 3,1 persen di akhir tahun ini," tutur Perry.
 
Kepala BPS Suhariyanto sebelumnya mengungkapkan tingkat inflasi Mei 2019 terjadi karena adanya kenaikan harga di seluruh indeks kelompok pengeluaran. Kelompok bahan makanan menjadi penyumbang inflasi tertinggi sebesar 2,02 persen serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,56 persen.
 
"Saya pikir ini wajar-wajar saja karena Ramadan, pada bulan selanjutnya inflasi akan menurun karena permintaan juga akan menurun," kata dia.
 
Selain itu ada pula kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar juga menyumbang inflasi 0,06 persen; kelompok sandang sebesar 0,45 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,18 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,03 persen. Selanjutnya kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat memberikan andil cukup tinggi sebesar 0,54 persen.
 
Suhariyanto menyebut Ramadan yang mulai pada awal Mei 2019 cenderung mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya. Namun demikian, tingkat inflasi diyakini akan menurun pada Juni 2019.
 
"Karena puasa terjadi mulai awal bulan, kenaikan harga di minggu pertama Ramadan dan minggu terakhir Ramadan, kita berharap inflasi Juni jauh lebih rendah," pungkas Suhariyanto.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif