Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. Dok :Medcom.
Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita. Dok :Medcom.

Mendag Tolak Anggapan Indonesia Masuk Middle Income Trap

Ekonomi ekonomi indonesia
Nia Deviyana • 16 April 2019 15:34
Tangerang Selatan: Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita tidak setuju apabila Indonesia disebut masuk middle income trap atau jebakan pendapatan menengah. Dia bilang ada beberapa alasan Indonesia tergolong negara berkembang yang terus menunjukkan pertumbuhan positif.
 
"Saya tidak melihat bahwa kita masuk ke middle income trap. Kita lihat parameter yang ada, bagaimana pertumbuhan ekonomi dan lain sebagainya," ujarnya saat ditemui di ICE BSD, Tangerang Selatan, Selasa, 16 April 2019.
 
Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi di kisaran lima persen sudah baik dibandingkan negara maju di dunia yang justru berada di angka empat persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Malahan sekarang diturunkan lagi oleh IMF Dan World Bank. Kita justru (dengan pertumbuhan ekonomi) segini dapat apresiasi," imbuh dia.
 
Enggar menjelaskan melihat pertumbuhan ekonomi pun harus secara luas mengikuti komponen-komponen pendukungnya seperti tingkat inflasi dan kestabilan nilai tukar rupiah.
 
"Ada negara dengan pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi inflasinya juga tinggi. Jadi kita stabil sudah bagus," tuturnya sembari optimistis ke depan pertumbuhan ekonomi bakal naik seiring program kerja yang tepat pada revolusi industri 4.0.
 
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani sebelumnya memberikan empat resep bagi Indonesia agar mencapai pendapatan per kapita di atas USD12.476 sehingga bisa masuk golongan high income countries. Pertama melalui peningkatan sumber daya manusia atau human capital.
 
Peningkatan jumlah angkatan kerja berpendidikan dan mahir teknologi informasi merupakan aset potensial untuk memacu peningkatan produktivitas. Apalagi populasi angkatan kerja diperkirakan bertambah menjadi 189 juta pada 2020.
 
"Kuncinya itu pertama manusianya yang produktif makanya Presiden fokus ke SDM dan kemampuan. Enggak hanya anggaran tapi programnya," ucap Ani, sapaannya, belum lama ini.
 
Cara kedua, melalui pembangunan infrastruktur yang efektif, efesien, dan tepat, khususnya dalam mengakomodasi urbanisasi. Ani meyakini infrastruktur yang memadai memacu konsumsi serta peningkatan investasi dan produktivitas.
 
Resep ketiga ialah memperbaiki kualitas birokrasi yang antikorupsi dan penuh kompetensi, baik di institusi publik maupun swasta. Hal ini terbukti dari birokrasi negara dengan berpendapatan tinggi yang begitu bersih seperti Singapura, Jepang, Taiwan, Israel, dan beberapa negara di Eropa Timur.
 
"Mengukurnya sulit karena tidak bisa langsung, itu adalah langkah yang harus diperhatikan. Harus dibayar cukup sehingga jadi bersih," imbuh dia.
 
Cara keempat keluar dari kelompok negara berpendapatan menengah ialah terbuka terhadap globalisasi. Artinya kebijakan yang dibuat harus mampu membuat Indonesia menjadi terbuka dengan negara lain serta memiliki daya saing internasional.
 
"Negara yang mampu melewati middle income trap itu terbuka terhadap globalisasi dan makin kompetitif dan mereka akhirnya mampu melakukan disiplin," pungkasnya.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif