Foto: AFP.
Foto: AFP.

Kebijakan RI Atasi Pandemi Direspons Positif IMF

Ekonomi IMF Ekonomi Indonesia pandemi covid-19
Media Indonesia.com • 12 Januari 2021 11:35
Jakarta: Dana Moneter Internasional (IMF) menilai Indonesia telah mengatasi tekanan ekonomi dan sosial yang timbul akibat pandemi covid-19 dengan paket kebijakan komprehensif dan terkoordinasi.
 
Selain itu, IMF menyatakan intervensi kebijakan tepat waktu dapat menjaga stabilitas makro yang berasal dari tekanan global. Hal tersebut dikemukakan Chief IMF untuk Indonesia Thomas Helbing dalam sebuah riset yang dikutip Senin, 11 Januari 2021.
 
Dalam menanggapi hal itu, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengemukakan proyeksi ekonomi Indonesia telah berada di zona positif karena mulai mengalami rebound di semester kedua 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dengan demikian, diperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 4,8 persen pada 2021 dan enam persen pada 2022. Asumsi pertumbuhan ditopang oleh dukungan kebijakan yang kuat, termasuk rencana distribusi vaksin serta membaiknya kondisi ekonomi dan kekuatan keuangan global," kata Nico Demus, dikutip dari Mediaindonesia.com, Selasa, 12 Januari 2021.
 
Bauran kebijakan ekonomi makro akomodatif diharapkan tetap berjalan pada 2021. Di sisi perbankan, IMF menilai sistem perbankan tetap stabil berkat intervensi kebijakan berani dan tepat waktu. Namun, Helbling mengingatkan pencadangan kerugian pinjaman yang memadai penting bagi bank untuk menyerap risiko kualitas aset yang meningkat.
 
Di kesempatan berbeda, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyatakan APBN 2020 bekerja sangat keras untuk menahan pemburukan dampak covid-19. Penerimaan negara turun, yang dibarengi dengan peningkatan belanja, menyebabkan defisit sebesar 6,09 persen terhadap PDB.
 
"Meskipun relatif kecil jika dibandingkan dengan negaranegara lain, APBN Indonesia telah bekerja optimal sebagai instrumen kebijakan countercyclical di masa pandemi," ujar Febrio melalui siaran persnya.
 
Defisit terjadi karena penerimaan negara mengalami tekanan cukup dalam hingga 16,7 persen jika dibandingkan dengan realisasi di 2019. Tercatat, hingga akhir 2020 negara memperoleh pendapatan Rp1.633,6 triliun atau 96,1 persen dari target Perpres No 72 Tahun 2020.
 
"Realisasi ini menggembirakan di tengah aktivitas ekonomi yang terganggu luar biasa. Tingginya realisasi belanja bantuan sosial di 2020 bukti bahwa APBN ditujukan untuk melindungi konsumsi warga miskin dan rentan di masa pandemi," pungkas Febrio.
 
(AHL)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif