BI Bidik Ekonomi RI Terbaik di Antara <i>Emerging Market</i>
Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo. (FOTO: ANTARA/Sigid Kurniawan)
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menargetkan perekonomian Indonesia menjadi yang terbaik di antara negara-negara emerging market dalam 5-10 tahun ke depan.

Hal itu dilakukan dengan menjaga stabilitas sistem keuangan, mendorong pertumbuhan, dan mengurangi defisit transaksi berjalan. Diketahui hingga kuartal I-2018, defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai USD5,5 miliar.

"BI harus mampu berkontribusi nyata terhadap perekonomian dan menjadi yang terbaik di emerging market, itu harus kita bawa lima sampai 10 tahun ke depan," ujar Perry dalam acara HUT BI dengan tema 'Berprestasi dan Berkontribusi Melalui Sinergi Berlandaskan Religi' di Gedung BI, Jakarta, Senin, 2 Juli 2018.

Dalam acara tersebut, turut hadir Menko Perekonomian Darmin Nasution, mantan Wakil Presiden RI 2009-2014 Boediono, dan para mantan Gubernur BI Arifin Siregar, Adrianus Mooy, dan Syahril Sabirin. Untuk mencapai target sekaligus menjawab tantangan yakni stabilitas ekonomi, gejolak perekonomian global, ekonomi digital, dan institusi, maka BI menyiapkan tujuh strategi.

Pertama yakni mengoptimalkan bauran kebijakan antara moneter dan makro. Selain itu juga bauran kebijakan antara BI dan pemerintah dengan kebijakan reformasi struktural untuk mendorong sektor riil.

"Bauran kebijakan juga agar mampu mendukung visi pro stabilitas, dan pro growth," ucapnya.

Langkah selanjutnya yakni mengoptimalkan kebijakan makroprudensial dengan menyediakan pembiayaan bagi pertumbuhan di luar kredit perbankan.

"Bagaimana pembiayaan ekonomi agar mampu terdiversifikasi sehingga mampu mendorong pertumbuhan," ucapnya.

Strategi ketiga yakni menata dan mengakselerasi kebijakan sistem pembayaran dalam kerangka strategi nasional ekonomi dan keuangan digital. Sistem pembayaran, kata dia, hanya satu bagian ekonomi digital.

"Pak Menko memang kita harus membuat strategi nasional ekonomi keuangan digital, kami akan dukung," ucapnya.

Langkah keempat yakni meningkatkan pendalaman pasar keuangan. Pendalaman pasar keuangan, kata Perry, tidak hanya untuk mendorong pembiayaan ekonomi tapi juga memperkuat stabilitas sistem keuangan.

"Beberapa hal perlu kita lakukan, memperkuat infrastruktur pembayaran dan sektor finansial harus dilakukan," ucapnya.

Langkah keenam yakni dengan meningkatkan sinergi dengan kementerian dan lembaga lain. Dengan pemerintah, kebijakan moneter BI harus mampu bersinergi dengan instrumen fiskal. Lalu kebijakan makroekonomi juga harus mampu bersinergi dengan kebijakan sektor riil melalui reformasi struktural. Hal itu dinilai mampu mengurangi defisit transaksi berjalan dan mendorong pertumbuhan.

"Sinergi dan koordinasi juga dilakukan dengan OJK terkait kebijakan mikro dan makro yang saling mendukung untuk stabilitas. Juga sinergi BI dengan Pemda untuk menjaga inflasi," ucapnya.

Langkah terakhir yakni memperkuat organisasi, kinerja, kualitas dan kuantitas SDM salah satunya dengan membuat digital workplace di BI. Tujuh strategi itu akan disusun dalam program kerja.

"Kita dalam laksanakan tugas saya ajak untuk selalu mendekatkan diri ke Allah SWT, menciptakan BI yang religi," pungkasnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id