Bank Indonesia. Foto : MI/Usman Iskandar.
Bank Indonesia. Foto : MI/Usman Iskandar.

BI Sebut Pandemi Buat Defisit Fiskal Negara Maju Melebar hingga 10%

Ekonomi Bank Indonesia Ekonomi Indonesia defisit anggaran
Husen Miftahudin • 04 Mei 2021 20:43
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menilai meluasnya wabah pandemi covid-19 membuat banyak negara-negara di dunia mengalami pelebaran defisit fiskal. Hal tersebut karena pemerintah dan bank sentral negara-negara di dunia melakukan kebijakan-kebijakan stimulus guna menjaga ekonomi domestik.
 
"Hal itu dilakukan dengan cara defisit fiskalnya dinaikkan, lalu dari sisi bank sentralnya melakukan quantitative easing dengan membuat suku bunganya diturunkan," ungkap Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo dalam sebuah webinar, Selasa, 4 Mei 2021.
 
Kata Dody, banyak negara yang memperlebar defisit fiskalnya seperti negara-negara berkembang (emerging) di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika. Negara maju pun melakukan hal yang sama agar terhindar dari resesi ekonomi berkepanjangan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Bahkan kita melihat defisit-defisit fiskal di banyak negara itu bahkan menuju ke level di atas 10 persen untuk negara-negara maju. Sementara negara-negara emerging masih di kisaran empat persen sampai enam persen," urai dia.
 
Indonesia, ucapnya, juga melakukan langkah yang sama. Saat ini defisit fiskal RI melebar hingga lebih dari lima persen lantaran mengeluarkan kebijakan quantitative easing yang dilakukan sejak awal pandemi di 2020 hingga Februari 2021.
 
"Kalau di 2020 yang lalu saja sekitar 4,7 persen terhadap PDB (Produk Domestik Bruto). Jadi Bank Indonesia termasuk di kawasan dari sisi quantitative easing-nya cukup besar," papar Dody.
 
Penurunan suku bunga kredit juga dilakukan berbagai negara di dunia. Secara global penurunan suku bunga tiap negara berkisar antara 50 bps sampai 300 bps. Penurunan suku bunga acuan ini akan terus dilakukan dengan tujuan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.
 
Sayangnya penurunan suku bunga berbalik dengan permintaan pembiayaan. Berbagai negara kawasan mengalami penurunan permintaan kredit perbankan seperti Eropa Selatan dan kawasan Eropa Barat. Pelemahan permintaan kredit ini tidak hanya disebabkan pandemi, melainkan sebagai dampak perang dagang di 2019.
 
"Oleh karena itu, kalau kita melihat dari konteks perbankan pun juga mengalami return on asset yang mengalami pelemahan dan penurunan di banyak negara, khususnya di emerging market. Ini karena fenomenanya adalah ekonominya itu sendiri yang sedang melemah didukung kredit yang juga mengalami pembatasan," pungkas Dody.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif