Ilustrasi. Foto : MI/MOHAMAD IRFAN.
Ilustrasi. Foto : MI/MOHAMAD IRFAN.

BI Masih Pasang Target Pertumbuhan Ekonomi Dikisaran 5,1%

Ekonomi bank indonesia
Desi Angriani • 02 Desember 2019 21:33
Jakarta: Bank Indonesia (BI) masih memasang target pertumbuhan ekonomi sepanjang 2019 dikisaran 5,1 persen. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi RI tumbuh 5,02 persen (yoy) di kuartal III-2019 dan tumbuh 5,04 persen secara kumulatif Januari-September 2019.
 
Meski prediksi ini jauh dari target pemerintah sebesar 5,2 persen pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019, ramalan bank sentral ini lebih baik ketimbang realisasi kuartal III-2019. Terdapat beberapa faktor yang mendorong kestabilan perekonomian domestik Indonesia itu.
 
"Karena dari sisi konsumsi kita cukup kuat. Government support juga kan untuk konsumsi khususnya di kelompok berpendapatan di bawah kan juga banyak," kata Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Senin, 2 Desember 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Destry mengakui perlambatan global membuat perekonomian di hampir semua negara dunia mengalami penurunan. Indonesia pun demikian, maklum market utama produk ekspor RI yakni Tiongkok dan India juga mengalami pelemahan cukup dalam.
 
"Kita lihat saja Tiongkok yang biasanya tumbuh berapa sekarang dia hanya bisa tumbuh 6,2 persen, termasuk India. Jadi bukan hanya Indonesia saja," terangnya.
 
Sementara perekonomian India yang biasanya tumbuh di kisaran 7-8 persen, kini hanya mampu tumbuh lima persen. India merupakan salah satu market terbesar Indonesia untuk ekspor batu bara.
 
"Eropa juga sama. Jadi dari sisi eksternal memang kita menghadadapi tekanan yang cukup tinggi," tukas dia.
 
Beruntung program pemerintah terkait kewajiban pencampuran 20 persen biodiesel dengan 80 persen bahan bakar minyak jenis solar (B20) berjalan baik. Hal itu mampu mengurangi impor minyak dan gas secara signifikan.
 
"Jadi sudah ada impact, itu agak mengurangi defisit di neraca perdagangan kita yang pada akhirnya pengaruhi neraca transaksi berjalan. Tapi 2019 ini kan kemarin kita juga ada pemilu, dan ini juga pada akhirnya buat investor banyak yang pada akhrinya menunda," urai Destry.
 
Meski dalam kondisi sulit, aktivitas domestik jadi penopang perekonomian Indonesia di tahun ini.
 
"Jadi artinya dalam kondisi yang cukup sulit memang agak sulit kalau kita berharap untuk pertumbuhan tinggi. Jadi kita melihat angka 5,1 persen itu adalah angka yang durable untuk 2019 ini," tutup Destry.

 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif