Kesempatan Bisnis dari 53% Okupansi Hotel Kosong
Illustrasi. ANTARA FOTO/M Agung Rajasa.
Jakarta: Industri perhotelan belum mencatatakan kinerja bagus, karena hanya mencatatkan okupansi 53% per tahun dan sisanya menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Pasalnya, pemerintah tengah menggenjot sektor pariwisata dengan sejumlah terobosan termasuk menciptakan 11 destinasi baru selain Bali.

"Melalui usaha pemerintah menggenjot pariwisata dan di sisi lain okupansi hotel masih 53% sehingga keduanya menjadi kesempatan bisnis yang baik," terang CEO aplikasi pemesanan hotel, Bukakamar, Boby Haryadi di Jakarta, Selasa, 23 Oktober 2018.

Bisnis perhotelan dinilai sangat menjanjikan. Pasalnya, arus wisatawan membutuhkan penginapan yang sangat besar.

Untuk memudahkan mendapatkan penginapan, sistem aplikasi dinilai sangat dibutuhkan. Atas dasar itu, dia mendirikan start up, Bukakamar.

Bukakamar mirip dengan online travel agent pada umumnya. Bedanya, terdapat fitur local rate yang menyediakan hotel dalam radius lima kilometer dari lokasi pengguna.

Dengan begitu, kata dia, wisatawan dapat menemukan penginapan di tempat wisata yang dituju. Layanan ini juga memberikan potongan harga sampai 10 persen.

"Kami sudah bekerja sama dengan 15 hotel dengan rate bintang 2 hingga 4 di Jakarta, Bandung, Bali, Surabaya, Medan, dan Padang," kata dia.

Boby juga membuka peluang ke depannya menyediakan pemesanan layanan apartemen. Dengan semua layanan ini diharapkan dapat meraup 5% okupansi hotel.

"Tahun pertama ini kita targetkan pendapatan Rp12 miliar. Caranya kita akan bekerja sama dengan hotel karena yang lain tidak kemudian brand awarnes, sosmed juga dan kita akan ikut start up event," pungkas dia.




(AZF)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id