BI Bakal Antisipasi Kebijakan Suku Bunga AS
Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo. Medcom.id/Eko Nordiansyah.
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memberi sinyal akan secara agresif menerapkan kebijakan moneter terutama dalam mengantisipasi kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS). BI akan segera merespon rencana kenaikan suku bunga AS yang lebih tinggi.

"Saya rencanakan untuk lebih pre-emptive, front loading, dan ahead the curve dalam kebijakan respons suku bunga," kata Gubernur BI Perry Warjiyo usai pelantikan di Gedung Mahkamah Agung, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis, 24 Mei 2018.

Sebelumnya bank sentral dan pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga bank sentral AS ,the Fed, hanya tiga kali tahun ini. Namun dengan perkembangan di AS, Fed fund rate diyakini naik lebih agresif hingga empat kali dalam setahun.

Kenaikan suku bunga AS membawa dampak tertekannya mata uang negara berkembang termasuk rupiah. Apalagi imbal hasil obligasi pemerintah AS, US Treasury, juga naik lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya hingga lebih dari tiga persen.

"Tekanan juga datang dari defisit fiskal AS yang lebih tinggi. Pada tahun ini diperkirakan empat persen, tahun depan lima persen, dan itu  membuat pembiayaan defisit fiskal AS akan lebih tinggi," jelas dia.

Bahkan BI telah melakukan intervensi pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang dimilki asing mencapai Rp50 triliun, dengan Rp13 triliun di antaranya masuk pada Mei 2018. Upaya ini dilakukan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat menembus Rp14.100 per USD.

"Saya juga akan perkuat koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan. Saya juga akan aktif berkomunikasi dengan perbankan, misalnya untuk membenarkan banyak mispersepsi," pungkasnya.



 



(SAW)