Ilustrasi pemulihan ekonomi nasional - - Foto: dok MI
Ilustrasi pemulihan ekonomi nasional - - Foto: dok MI

Pemerintah Tetap Prioritaskan Pemulihan Ekonomi

Eko Nordiansyah • 16 Mei 2022 14:42
Jakarta: Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menyebut pemerintah masih akan menjaga konsistensi pemulihan ekonomi di tengah terkendalinya pandemi covid-19 di Indonesia.
 
Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di atas kondisi prapandemi. Hal ini bisa terlihat dari capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah berada di atas rata-rata produk domestik bruto (PDB) di 2019, sebesar 5,01 persen di kuartal I-2022.
 
"Kebijakan pemerintah saat ini adalah terus memprioritaskan pemulihan ekonomi agar bisa berjalan dengan kuat dan semakin konsisten. Di saat yang sama, kita pastikan bahwa daya beli masyarakat kita kelola sebaik-baiknya sehingga kebijakan pemerintah dalam konteks ini terus bisa menjadi shock absorber untuk masyarakat kita bisa terjaga," kata dia dilansir dari laman resmi Kemenkeu, Senin, 16 Mei 2022.
 
Selain itu, aktivitas masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri pada kuartal II-2022 juga sangat membantu meningkatkan performa dari sektor transportasi, sektor makanan dan minuman, serta sektor pariwisata. Kondisi ini diyakini akan menunjukkan aktivitas perekonomian Indonesia yang terus membaik.
 
"Jadi ini harapannya bisa membantu sektor-sektor yang tadinya masih di bawah performance sektor yang lain, yaitu seperti sektor transportasi, makanan dan minuman, serta sektor pariwisata dengan aktivitas di bulan Ramadan dan juga Lebaran di Mei ini harapannya ini bisa membawa sektor pariwisata lebih mendekati masa prapandeminya," ungkapnya.
 
Meski begitu, masih terdapat risiko yang mungkin harus dihadapi, misalnya kebijakan Zero Covid Policy dari Tiongkok dan geopolitik di Rusia. Selain itu, inflasi juga menjadi hal yang harus diperhatikan dan diantisipasi dengan baik. Pasalnya beberapa negara merespons inflasi dengan kenaikan suku bunga acuannya, termasuk Amerika Serikat (AS).
 
"Ini risiko yang masih harus kita hadapi dalam konteks perekonomian globalnya. Ini menjadi antisipatif bagi kita karena kita juga harus melihat kemungkinan kenaikan suku bunga ini akan semakin cepat dalam beberapa bulan ke depan, sehingga dampaknya bagi perekonomian global dan domestik harus diantisipasi dengan baik," pungkas dia.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif