Mengenal Konsep Blended Finance untuk Pembiayaan Infrastruktur

Suci Sedya Utami, Ade Hapsari Lestarini, Eko Nordiansyah, Annisa ayu artanti, Angga Bratadharma 10 Oktober 2018 10:27 WIB
infrastrukturIMF-World Bank
Mengenal Konsep <i>Blended Finance</i> untuk Pembiayaan Infrastruktur
Ilustrasi (Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti)
Nusa Dua: Pemerintah terus memaksimalkan pembangunan infrastruktur di Tanah Air dalam rangka memperkuat pondasi pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian. Salah satu skema yang dikembangkan adalah blended finance yang harapannya bisa mendukung terwujudnya Sustainable Development Goals (SDGs).

Blended finance adalah pembiayaan yang bersumber dari dana filantropi yang dihimpun masyarakat untuk memobilisasi modal swasta untuk investasi jangka panjang. Atau dengan kata lain blended finance merupakan strategi pembiayaan pembangunan serta dana filantropi untuk memobilisasi modal swasta ke pasar negara berkembang dan perbatasan.

Pengamat Ekonomi Josua Pardede mengatakan blended finance adalah salah satu paradigma dalam pembiayaan infrastruktur di mana pemerintah mencoba menawarkan beberapa proyek Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada investor. Skema ini diharapkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap Anggran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Secara khusus mengajak bagaimana peran swasta dan lembaga-lembaga filantropi atau internasional lainnya sehingga di sini bisa mengurangi ketergantungan APBN," kata Josua, ketika diwawancara dalam sebuah program Special Event Metro TV, Rabu, 10 Oktober 2018.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah membutuhkan dana Rp5.500 triliun untuk membangun infrastruktur. Sebanyak 40 persen pemerintah menggunakan APBN, sedangkan 60 persen mengajak pihak swasta dan lainnya. Di sini, skema semacam blended finance penting guna mewujudkan pembangunan infrastruktur.

"Jadi saya pikir alternatif dan inovasi pembiayaan untuk infrastruktur, dan ini juga untuk mendorong terwujudnya SDGs yang diharapkan bisa terlaksana hingga 2030 mendatang," kata Josua.

Dengan konsep blended finance, ia menilai, proyek-proyek yang cenderung kurang visibel akan ada penjaminan atau ada jaminan dari pemerintah sehingga memberikan kenyamanan bagi para investor. Konsep ini dikembangkan agar para investor tertarik untuk bersama-sama dengan Pemerintah Indonesia membangun infrastruktur.

"Tentunya dengan menawarkan imbal hasil menarik karena kalau tidak ditawarkan dengan imbal hasil menarik tentunya tidak ada investor yang mau atau swasta tidak akan tertarik," pungkasnya.

 



(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id