Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah). (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah). (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

BI Perkirakan Fed Fund Rate hanya Naik Sekali di 2019

Ekonomi bank indonesia the fed
Husen Miftahudin • 21 Februari 2019 19:13
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memperkirakan bank sentral AS, The Federal Reserve, hanya akan menaikkan suku bunga acuan sebanyak satu kali di tahun ini. Pernyataan tersebut merevisi proyeksi BI sebelumnya, di mana Fed Fund Rate (FFR) akan mengalami kenaikan sebanyak dua kali di 2019.
 
"The Fed untuk 2019 kemungkinan kenaikannya semula tiga kali, sebelumnya kami perkirakan turun jadi dua kali. Tapi bacaan terakhir kami, The Fed tahun ini kemungkinan hanya menaikkan satu kali saja," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 21 Februari 2019.
 
Menurut Perry, pelonggaran suku bunga acuan AS itu sejalan dengan sejumlah risiko perlambatan ekonomi global. Selain itu, harga komoditas global yang juga diperkirakan mengalami penurunan, termasuk harga minyak dunia, serta normalisasi kebijakan moneter di negara maju yang cenderung tidak seketat perkiraan semula.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perkembangan ekonomi dan keuangan global tersebut di satu sisi memberikan tantangan dalam mendorong ekspor. Namun di sisi lain meningkatkan aliran masuk modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia," terang Perry.
 
Baca juga: Asal Usul Istilah Unicorn
 
Namun di sisi lain, Perry menilai The Fed akan melakukan penyesuaian terhadap neracanya (balance sheet) seiring upaya dalam menormalisasi kebijakan mereka. Kondisi ini membuat pengurangan neraca The Fed cenderung lebih cepat ketimbang kenaikan suku bunga acuan.
 
"Jadi kalau mereka pengetatannya lebih rendah untuk suku bunga, tapi balance sheet-nya akan cenderung lebih cepat pengetatannya melalui neraca bank sentral," ungkap Perry.
 
Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara menyebutkan keputusan The Fed yang hanya menaikkan FFR sekali akan berdampak pada negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi itu membuat aliran modal asing semakin deras masuk ke Indonesia.
 
"Karena ekonomi dunianya melambat, maka kemudian The Fed mulai menggunakan kalimat-kalimat yang dovish. Dovish-nya dari The Fed itu yang kemudian membuat emerging market menjadi menarik kembali dan kemudian capital inflow masuk kembali keemerging market," pungkas Mirza.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif