Illustrasi. MI/MOHAMAD IRFAN.
Illustrasi. MI/MOHAMAD IRFAN.

Pemilu dan Lebaran Jadi Motor Penggerak Ekonomi Tahun ini

Ekonomi ekonomi indonesia pilpres 2019
Annisa ayu artanti • 26 Maret 2019 19:27
Jakarta: Ekonom menilai adanya kegiatan lima tahunan pemilihan umum (Pemilu) dan lebaran akan menjadi motor penggerak ekonomi Indonesia tahun ini.
 
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Hendri Saparini optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2019 bisa mencapai 5,2 persen.
 
"Pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2019 akan mencapai 5,2 persen. Di semester I akan didrive oleh pemilu, dan semester II akan di drive oleh lebaran dan Ramadan," kata Hendri usai diskusi 100 Ekonom Perempuan Memandang Indonesia ke Depan, di Hotel Century Park, Jakarta, Selasa, 26 Maret 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Hendri berharap Pemilu bisa menjadi kesempatan awal untuk tercapainya target pertumbuhan ekonomi nasional.
 
"Jadi kita punya kesempatan untuk mempertahankan atau mengawali pertumbuhan ekonomi di semester ini," ungkap dia.
 
Namun demikian, Hendri juga mengatakan sebaiknya pemerintah juga mendorong faktor-faktor lain yang bisa meningkatkan perekonomian Indonesia, seperti peningkatan investasi dan ekspor.
 
"Sehingga sumber-sumber pertumbuhan kita akan merata dari berbagai sektor," ucap dia.
 
Ia pun menyebutkan saat ini sektor investasi sudah mulai membaik. Investasi di sektor non-konstruksi pun meningkat bahkan lebih tinggi dari sektor konstruksi. Tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari peluang untuk lebih mengembangkannya supaya berkelanjutan dan bisa menjadi penggerak perekonomian.
 
"Ini kita tinggal cari peluang untuk dicarikan jalan, ini mau diapakan. Kalau mereka sudah tumbuh, marketnya di mana, maka bagaimana dengan kebijakan perdagangannya," jelas dia.
 
Hendri juga mengatakan tak perlu mengkhawatirkan faktor konsumsi Indonesia yang memang cukup tinggi. Sebab, negara lain pun seperti Tiongkok mengandalkan konsumsi sebagai pendorong pertumbuhan ekonominya.
 
"Kita 60 persen masih konsumsi, jadi mau tidak mau tidak bisa katakan kenapa masih konsumsi. Itu yang harus kita syukuri, karena di Tiongkok pun masyarakatnya didorong untuk konsumsi," tukas dia.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif