Reformasi Perpajakan tak Sekadar Penerimaan

Tesa Oktiana Surbakti 19 Juli 2018 11:51 WIB
perpajakan
Reformasi Perpajakan tak Sekadar Penerimaan
Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas DJP Hestu Yoga Saksama. (FOTO: Medcom.id/Annisa Ayu)
Jakarta: Dalam sidang kabinet paripurna, Presiden Joko Widodo kembali mengingatkan untuk mengantisipasi dampak ketidakpastian global melalui langkah terobosan yang strategis. 
Termasuk memacu ekspor dan investasi, percepatan pelaksanaan proyek strategis, berikut melanjutkan reformasi perpajakan.

Reformasi perpajakan dalam hal ini dianggap penting karena menjadi instrumen untuk menjaga iklim investasi dan menggerakkan roda perekonomian di dalam negeri. Tidak hanya bagian dari strategi penegakan kemandirian pembangunan nasional.

Arahan itu pun diaminkan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan. Formulasi kebijakan yang dirumuskan tidak hanya berorientasi pengumpulan pajak sebagai tulang punggung penerimaan negara.

"Dalam konteks reformasi perpajakan di mana salah satu pilarnya adalah policy, DJP menformulasikan regulasi tidak semata-mata dalam konteks pengumpulan atau penerimaan pajak," ujar Direktur Penyuluhan, Pelayanan dan Humas DJP Hestu Yoga Saksama saat dihubungi, Kamis, 19 Juli 2018.

Beberapa regulasi atau kebijakan yang dikeluarkan untuk mendukung dunia usaha, mencakup simplifikasi administrasi perpajakan, pembaruan fasilitas pembebasan Pajak Penghasilan (PPh) Badan atau dikenal tax holiday, penurunan tarif PPh final sektor Usaha Kecil dan Menengah (UKM) menjadi 0,5 persen, berikut percepatan investasi.

"Berbagai kebijakan yang dikeluarkan terkait aspek perpajakan, semua utu dalam rangka mendorong pergerakan ekonomi nasional dan meningkatkan investasi," imbuh Hestu.

Selain itu, dalam melaksanakan tugas pengumpulan pajak, DJP dikatakannya mengedepankan pelayanan, edukasi dan pembinaan terhadap Wajib Pajak (WP). Langkah tersebut dengan tetap memastikan tingkat kepatuhan yang baik dari WP guna menjaga iklim usaha yang kondusif.

Sebagai informasi, penerimaan pajak semester I-2018 tumbuh 13,99 persen (year on year/yoy) dengan realisasi Rp581,54 triliun atau 40,84 persen dari target. Jika tidak memperhitungkan efek uang tebusan amnesti pajak, maka pertumbuhan penerimaan pajak semester I-2018 mencapai 16,73 persen (yoy) atau tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id