The Fed. Foto ; AFP.
The Fed. Foto ; AFP.

Tapering Off Berdampak ke Ekonomi Indonesia

Ekonomi Bank Indonesia The Fed Ekonomi Indonesia
Annisa ayu artanti • 24 September 2021 15:00
Jakarta: Tapering off yang dilakukan Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) akhir 2021 nanti akan menjadi pembicaraan hangat.
 
Kebijakan tersebut akan mendapat perhatian dari banyak pihak, terutama investor yang khawatir dengan potensi dampak yang ditimbulkan terhadap pasar. Lantas, bagaimana risiko yang akan dihadapi Indonesia atas kebijakan tersebut?
 
Dalam riset yang dipublikasikan oleh Nomura Research Institute, sebuah lembaga riset ekonomi terbesar di Jepang, Indonesia masuk ke daftar sepuluh negara rentan terdampak bersama Brasil, Kolombia, Chili, Peru, Hongaria, Rumania, Turki, Afrika Selatan, dan Filipina jika tapering off dilakukan.
 
Nomura sebelumnya juga telah memasukkan Indonesia ke dalam daftar lima negara berkembang rentan selama taper tantrum di 2013 bersama Brasil, India, Afrika Selatan, dan Turki.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nomura menjelaskan, penyebab rentannya sepuluh negara tersebut adalah kombinasi dari pertumbuhan ekonomi yang lemah, inflasi yang meningkat, dan berkurangnya kekuatan fiskal. Situasi di negara-negara berkembang, inflasi lebih tinggi daripada suku bunga juga menjadi sumber kerentanan.
 
Namun, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo cukup optimistis dampak tapering off The Fed tidak akan sebesar taper tantrum pada 2013 baik untuk pasar global, emerging market, bahkan Indonesia.
 
Hal tersebut berdasarkan pada beberapa poin termasuk komunikasi The Fed yang sangat terbuka terkait kerangka kerja dan kebijakan sehingga Indonesia lebih mudah memahami pola kerja The Fed ke depannya.
 
Dari sisi internal, BI juga telah memiliki kebijakan yang matang dalam mengelola risiko tapering off baik kepada nilai tukar rupiah maupun pergerakan arus modal asing. BI juga memiliki bantalan cukup besar berupa cadangan devisa yang hingga akhir Juli 2021 berada di posisi USD137,4 miliar sehingga dianggap cukup untuk melakukan stabilisasi di tengah risiko tapering off.
 
CEO/Managing Partner Grant Thornton Indonesia Johanna Gani mengatakan,dampak tapering off 2013 silam berimbas cukup kuat terhadap perekonomian Indonesia.
 
Salah satu penyebabnya adalah cukup tingginya arus dana asing yang masuk ke pasar saham Indonesia dari kebijakan Quantitative Easing (QE) setelah krisis keuangan 2008 dan Current Account Deficit (CAD) pada 2013 yang mencapai lebih dari tiga persen dari pertumbuhan ekonomi.
 
Dampak paling terasa dari taper tantrum 2013 yaitu merosotnya nilai tukar rupiah hingga puncak pelemahan terjadi pada September 2015, pada akhir Mei 2013, kurs rupiah berada di level Rp9.790 per USD sampai pada 29 September 2015 menyentuh level terlemah Rp14.730 per USD. Sedangkan IHSG saat itu pun jatuh dari level 5.200 ke level 4.200 di akhir 2013.
 
"Namun secara keseluruhan dampak tapering off The Fed diprediksi tidak akan seberat 2013. Pertama, the Fed sudah sangat transparan dalam hal komunikasi khususnya prospek ekonomi seperti inflasi dan pengangguran, termasuk terkait rencana tapering off yang akan dilakukan tahun ini," kata Johanna.
 
Selain itu kondisi makro ekonomi dalam negeri yang juga lebih baik dibandingkan 2013 juga menjadi pendukungnya. Cadangan devisa cukup tinggi mencapai USD137,4 miliar pada Juli 2021. Angka cadangan devisa ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada Juni 2013 yang hanya mencapai USD98,1 miliar.
 
Pihaknya mendukung pemerintah terutama BI sebagai regulator untuk mengantisipasi dampak tapering off dari jauh-jauh hari termasuk kesiapan untuk melakukan intervensi, seperti intervensi di pasar spot hingga pembelian SBN di pasar sekunder jika pihak asing melepas kepemilikan SBN mereka.
 
"Dengan adanya persiapan yang lebih matang, semoga dampak tapering off kali ini terhadap depresiasi rupiah masih berada dalam tahap yang wajar," jelas Johanna.
 
Tapering off adalah pengurangan stimulus moneter yang dikeluarkan bank sentral saat perekonomian sedang terancam dan membutuhkan banyak suntikan dana likuiditas. Hal ini dilakukan The Fed dengan mengurangi ukuran program pembelian obligasi yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing/QE).
 
Pada umumnya, indikator pengukur kapan tapering off dilaksanakan adalah ketika inflasi mengalami keseimbangan, tingkat pengangguran menuju normal, hingga pemulihan tingkat kredit atau pinjaman yang menandakan ekonomi mulai aktif kembali.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif