Chief Economies ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Hoe Ee Khor (kiri). (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)
Chief Economies ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Hoe Ee Khor (kiri). (FOTO: Medcom.id/Desi Angriani)

Prospek Ekonomi di Kawasan ASEAN Melemah

Ekonomi bank indonesia as-tiongkok
Desi Angriani • 18 Juni 2019 13:29
Jakarta: Pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN diperkirakan melambat menjadi 5,1 persen di 2019 dan 5,0 persen di 2020. Perlambatan ini terutama disebabkan oleh penurunan ekspor akibat perlambatan siklus teknologi dan belanja modal serta ketidakpastian negosiasi perdagangan AS-Tiongkok.
 
Chief Economies ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) Hoe Ee Khor mengatakan peningkatan ketegangan perdagangan global akibat penerapan tambahan tarif oleh AS, dengan tingkat kemungkinan sedang, namun berdampak tinggi. Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan global yang telah melemah akibat perlambatan siklus teknologi dan belanja modal.
 
"Kemungkinan goncangan volatilitas yang disebabkan oleh perubahan ekspektasi secara tiba-tiba di pasar keuangan juga berpotensi menjadi ancaman bagi kawasan," katanya dalam jumpa pers ASEAN+3 Regional Economic Outlook (AREO) 2019 di Gedung D Bank Indonesia, Jakarta, Selasa, 18 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski demikian, kawasan ASEAN+3 dinilai memiliki tingkat ketahanan yang baik dalam menghadapi perlambatan permintaan eksternal. Hoe menyebut sebagian besar negara di kawasan ASEAN memiliki cadangan devisa dan buffer fiskal yang memadai.
 
Selain itu, pertumbuhan ekonomi di regional ASEAN juga mendekati tren jangka panjang dengan output gap mendekati nol dan inflasi dalam kisaran target kebijakan atau tren jangka panjang.
 
"Sebagian besar siklus kredit di kawasan berada di fase pemulihan atau perlambatan dengan pertumbuhan kredit mendekati tren jangka panjang," ungkap dia.
 
Untuk mengantisipasi risiko jangka pendek dan mempertahankan pertumbuhan, AMRO menyarankan otoritas di kawasan perlu mengkalibrasi bauran kebijakansesuai dengan siklus bisnis dan kredit, serta posisi eksternal dan kerentanan keuangan dimasing-masing negara.
 
Kalibrasi dalam hal ini termasuk pelonggaran kebijakan moneter jika diperlukan, serta
mempertahankan kebijakan fiskal yang cenderung akomodatif dengan tetap menjaga ketahanan fiskal dan kebijakan struktural lainnya untuk mendorong proses penyesuaian yang bersifat fundamental.
 
"Kebijakan makroprudensial yang ketat juga perlu dipertahankan untuk mengatisipasi peningkatan kerentanan finansial," tambahnya.
 
Terlepas dari prospek ekonomiyang melemah, fundamental ekonomi kawasan dalam jangka panjang diperkirakan tetap solid. Hal ini, katanya didukung oleh konsumsi yang kuat dan perdagangan intra-kawasan yang meningkat di tengah pertumbuhan masyarakat kelas menengah, urbanisasi yang cepat, serta penerapan teknologi digital.
 
"Dengan demikian, prioritas kebijakan jangka panjang, seperti pengembangan kapasitas dan konektivitas produktif serta pendalaman pasar modal domestik perlu terus ditekankan," pungkas dia.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif