Ilustrasi (MI/Atet Dwi Permata)
Ilustrasi (MI/Atet Dwi Permata)

Waspadai Pelemahan Rupiah Akibat Kenaikan Suku Bunga AS

Ekonomi rupiah menguat kurs rupiah ekonomi indonesia
Eko Nordiansyah • 15 Desember 2016 13:14
medcom.id, Jakarta: Bank sentral Amerika Serikat (AS) yakni the Fed memastikan kenaikan suku bunga menjadi 0,50 persen hingga 0,75 persen. Meski sudah diprediksi oleh banyak pihak, namun kenaikan Fed Fund Rate (FFR) tahun depan yang lebih agresif diprediksi akan berdampak pada gejolak terutama pada mata uang dunia.
 
Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan, agresifnya kenaikan suku bunga AS pada tahun depan mempertimbangkan implementasi fiskal yang lebih ekspansif oleh Presiden AS terpilih Donald Trump. Untuk itu, Indonesia perlu mewaspadai tekanan terhadap rupiah akibat kebijakan the Fed tersebut.
 
"Dampak dari pengetatan kebijakan moneter AS tersebut diperkirakan akan mendorong pelemahan nilai tukar rupiah serta koreksi di pasar keuangan baik di pasar saham dan obligasi," kata Josua, kepada Metrotvnews.com, di Jakarta, Kamis (15/12/2016).
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Rupiah Pagi Kembali ke Level Rp13.300/USD
 
Meski demikian, dirinya meyakini jika kondisi makroekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik untuk tahun depan. Di sisi lain, pemerintah menunjukan reformasi fiskal yang baik dengan kredibilitas pada pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
 
"Faktor fundamental ekonomi yang semakin membaik pada tahun depan diharapkan dapat terus menarik minat investasi. Kebijakan fiskal yang semakin kredibel ditunjukkan dengan APBN yang feasible tentunya akan mendorong kenaikan soverign rating Indonesia oleh S&P pada tahun depan," jelas dia.
 
Baca: Rupiah Berpeluang Melemah Usai FFR Naik
 
Namun demikian, pemerintah dan BI perlu mengantisipasi capital outflow seandainya kenaikan suku bunga AS lebih agresif pada 2017. Dirinya menambahkan, langkah koordinasi yang makin baik antara seluruh stakeholders di Indonesia akan menahan laju capital outflow yang lebih deras.
 
Baca: Gerak Rupiah Menunggu Kepastian Pengumuman RDG BI
 
"Langkah antisipatif tersebut ditunjukkan dengan perpanjangan kerja sama Bilateral Swap Arrangement (BSA) dengan pemerintah Jepang. Jadi secara keseluruhan, dengan semakin solid fundamental ekonomi indonesia serta peguatan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, saya pikir potensi capital outflow cenderung terbatas," pungkasnya.
 

 

(ABD)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif