Akhir Maret, Posisi Utang Pemerintah Rp4.136,4 Triliun
Illustrasi. MI/Atet Dwi Pramadia.
Jakarta: Posisi utang Pemerintah Indonesia hingga kuartal I atau 31 Maret 2018 mencapai Rp4.136,4 triliun. Jumlah ini mengalami kenaikan sekitar Rp100 triliun dari posisi bulan sebelumnya yang sebesar Rp4.034,8 triliun.

Berdasarkan data Kementerian Keuangan yang dikutip Medcom, Senin, 16 April 2018 merinci jumlah tersebut terdiri dari pinjaman sebesar Rp777,7 triliun yang berasal dari pinjaman luar negeri Rp773,9 triliun, di antaranya bilateral Rp331,2 triliun, multilateral Rp397,8 triliun, komersial Rp43,6 triliun dan supplier Rp1,2 triliun. Serta pinjaman dalam negeri sebesar Rp5,78 triliun.

Sementara yang berasal dari penerbitan surat berharga negara (SBN) sebesar Rp3.356,7 triliun yang terdiri dari denominasi Rupiah Rp2.416 triliun dan denominasi valas Rp940,7 triliun.

Dengan jumlah tersebut rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 29,78 persen atau meningkat dari posisi sebelumnya yakni 29,24 persen. Peningkatan tersebut disebabkan karena adanya penerapan strategi front loading atas pembiayaan APBN guna mengantisipasi meningkatnya pendanaan di pasar keuangan ke depannya sebagai dampak kenaikan Fed fund rate serta ketidakpastian global secara keseluruhan. Kendati demikian, posisi utang pemerintah saat ini diklaim masih terjaga dan berada di level aman.

Sementara itu, sepanjang kuartal I 2018, realisasi pembiayaan utang telah mencapai Rp148,2 triliun atau 37,1 persen dari target pembiayaan di APBN Rp399,2 triliun. Pembiayaan tersebut terdiri penerbitan SBN Rp143,8 triliun dan pinjaman Rp4,4 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pembiayaan utang kali ini mengalami penurunan drastis yakni hingga 21,1 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp187,9 triliun.

"Jadi kita menjaga utang kita secara sangat hati-hati, tidak ugal-ugalan," jelas Ani.



(SAW)