Ilustrasi - - Foto: Antara/ Galih Pradipta
Ilustrasi - - Foto: Antara/ Galih Pradipta

BI Ramal Ekonomi RI Kuartal II Lebih Terguncang

Ekonomi pertumbuhan ekonomi bank indonesia
Husen Miftahudin • 13 Mei 2020 18:25
Jakarta: Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2020 bakal ambles lebih dalam ketimbang realisasi kuartal sebelumnya yang 2,97 persen. Penerapan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) menjadi faktor utamanya.

"Kuartal II diperkirakan kondisi ekonomi Indonesia akan lebih parah ketimbang kuartal I-2020. Lembaga ekonomi global juga sudah menduga akan terjadi resesi, ini yang dihadapi, ujar Destry dalam diskusi daring di Jakarta, Rabu, 13 Mei 2020.
 
Awalnya, sebut Destry, bank sentral masih memegang optimisme pertumbuhan ekonomi kuartal I-2020 lantaran virus korona (covid-19) baru menghantam RI di akhir kuartal. Penerapan sejumlah kebijakan seperti social distancing, physical distancing, work from home, hingga PSBB juga baru berlaku pada awal Maret 2020.
 
"Kami masih memprediksi pertumbuhan kuartal I-2020 bisa empat persenan karena PSBB baru (diterapkan) Maret. Tapi nyatanya pertumbuhan ekonomi kita hanya 2,97 persen. Walaupun dibanding negara lain kita tidak terlalu buruk, tapi itu karena kita belum mulai full," urai dia.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut Destry mengungkapkan kondisi pandemi membuat pemerintah di berbagai negara langsung melakukan pelonggaran fiskal. Bank sentral sejumlah negara juga melakukan pelonggaran kuantitatif hingga mencetak uang.
 
"Sekarang hampir semua negara easing policy. Sehingga sebenarnya likuiditas melimpah, tapi aktivitas bisnis tidak normal," ucap Destry.
 
Sebelumnya Bank Indonesia mengaku telah mengucurkan likuiditas dengan langkah kebijakan moneternya melalui instrumen quantitative easing. Bank sentral mengestimasi, jumlah kucuran likuiditas untuk sektor perbankan tersebut mencapai sebanyak Rp503,8 triliun.
 
Kucuran likuiditas terdiri dari kebijakan quantitative easing yang dilakukan Bank Indonesia sejak Januari hingga April 2020 sebesar Rp386 triliun. Jumlah tersebut digelontorkan dari berbagai sumber, misalnya Rp166,2 triliun berasal dari pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
 
Kemudian, dari term repurchase agreement (repo) perbankan sebanyak Rp137,1 triliun. Dalam hal ini bank-bank dan korporasi yang membutuhkan likuiditas dapat melakukan term repo SBN kepada BI dengan tenor 1, 3, 6, hingga 12 bulan.
 
Selanjutnya berasal dari kebijakan pelonggaran giro wajib minimum (GWM) yang telah dilakukan bank sentral pada Januari hingga April 2020 dengan total mencapai Rp53 triliun. Terakhir, bersumber dari swap valuta asing (valas) sebesar Rp29,7 triliun.
 
"Kalau dijumlah, quantitative easing yang dilakukan Bank Indonesia dari Januari hingga April ini sebanyak Rp386 triliun," urai Gubernur BI Perry Warjiyo pada Rabu, 29 April 2020.
 
Tambahan Rp117,8 triliun lainnya mengalir dari penurunan GWM rupiah masing-masing sebesar 200 basis poin (bps) untuk Bank Umum Konvensional dan 50 bps untuk Bank Umum Syariah atau Unit Usaha Syariah. Kebijakan yang berlaku per 1 Mei 2020 ini ditaksir mampu menambah likuiditas perbankan sebanyak Rp102 triliun.
 
Selain itu bersumber dari peniadaan pemberlakuan kewajiban tambahan giro untuk pemenuhan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) terhadap Bank Umum Konvensional maupun Bank Umum Syariah atau Unit Usaha Syariah selama satu tahun yang mulai berlaku pada 1 Mei 2020. Langkah ini ditaksir mampu menambah likuiditas sebanyak Rp15,8 triliun.

 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif