Memikat Investor Kembali ke Pangkuan
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: MI/Susanto)
Jakarta: Untuk mengerem laju modal keluar karena investor lebih terpikat suku bunga global dan menekan defisit neraca perdagangan, Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 menjadi enam persen.

Apabila diakumulasi hingga November 2018, bank sentral telah menaikkan suku bunga enam kali sebesar 175 basis poin. BI pun menaikkan suku bunga pinjaman bagi bank yang memerlukan likuiditas harian (lending facility) menjadi 6,85 persen dan suku bunga penempatan likuiditas harian perbankan di BI (deposit facility) menjadi 5,25 persen.

"Ini untuk menambah daya tarik aset keuangan domestik dan mengantisipasi kenaikan suku bunga global beberapa bulan ke depan," kata Gubernur BI Perry Warjiyo kepada wartawan seusai memimpin Rapat Dewan Gubernur BI, Kamis, 15 November 2018.


Rapat Dewan Gubernur BI memprediksikan bank sentral AS, The Fed, akan melanjutkan serial kenaikan suku bunga acuan mereka pada Desember 2018 dan mempertahankan kebijakan normalisasi neraca.

"Kenaikan suku bunga acuan dilakukan di tengah pergerakan rupiah yang menunjukkan penguatan. Namun, ketidakpastian global beberapa bulan ke depan perlu diantisipasi," lanjut Perry.

Di kuartal III-2018, lanjut Perry, defisit transaksi berjalan menjadi 3,37 persen dari produk domestik bruto (PDB). Akan tetapi, secara tahun berjalan berada di bawah tiga persen dari PDB dan selanjutnya menjadi 2,5 persen dari PDB di 2019.

Laporan BPS kemarin menyatakan defisit transaksi berjalan dipicu tekanan impor. Neraca perdagangan Oktober 2018 defisit hingga USD1,82 miliar.

Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong menilai langkah BI mengerek suku bunga acuan diharapkan mampu menopang rupiah di tengah kekhawatiran investor terhadap rencana The Fed Desember mendatang.

Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Dimas Ardhinugraha pun mengamati investor asing yang mulai membeli kembali obligasi. "Mereka mencatatkan pembelian USD1,4 miliar di kuartal III. Obligasi kita masih menarik."

Presiden Direktur Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo menilai tepat langkah BI menaikkan suku bunga acuan.

"Walaupun perhitungan kami di akhir tahun seharusnya defisit transaksi berjalan di bawah tiga persen PDB, kami menganggap ini membuat investor tertarik dengan suku bunga lebih tinggi," ungkap Kartika.




Kondisi APBN

Di sisi lain, Kementerian Keuangan mencatat defisit APBN hingga akhir Oktober 2018 sebesar Rp237 triliun atau 1,6 persen dari PDB. Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, angka itu lebih kecil daripada defisit periode sama tahun lalu sebesar 2,26 persen dari PDB. Defisit itu merupakan selisih dari pendapatan negara periode Januari-Oktober sebesar Rp1.483,9 triliun dikurangi belanja negara Rp1.720,8 triliun.

Realisasi belanja negara tersebut meliputi belanja pemerintah pusat sebesar Rp1.074,4 triliun dan transfer ke daerah serta dana desa Rp646,4 triliun.

Adapun realisasi pendapatan dalam negeri hingga akhir Oktober 2018 mencapai Rp1.476,1 triliun atau 78 persen dari target APBN. Penerimaan tersebut berasal dari pajak sebesar Rp1.160,7 triliun dan PNBP Rp315,4 triliun.

"Ini perbaikan signifikan. Kondisi APBN kita kuat. Hingga akhir tahun, defisit anggaran diproyeksikan di kisaran 1,96-1,98 persen PDB. Atau lebih rendah dari asumsi APBN sebesar 2,19 persen. Intinya, defisit anggaran tidak lebih dari dua persen," tandas Sri saat jumpa pers di Kementerian Keuangan, Kamis, 15 November 2018.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id