Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)
Ilustrasi. (FOTO: MI/Rommy Pujianto)

BI: Implementasi LCS Genjot Stabilisasi Rupiah

Ekonomi bank indonesia mata uang
Husen Miftahudin • 18 April 2019 13:29
Jakarta: Bank Indonesia (BI) terus berkomitmen menggenjot implementasi transaksi perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS) di kawasan Asia Tenggara. Bank sentral berupaya dengan melaksanakan sosialisasi LCS.
 
Sosialisasi LCS dilakukan kepada bank yang memfasilitasi kebijakan LCS (Appointed Cross Currency Dealer Bank/Bank ACCD). Kemudian, importir/eksportir potensial bank-bank ACCD yang selama ini bertransaksi dagang dengan Malaysia dan Thailand.
 
"Implementasi LCS memiliki peran strategis dalam mendukung efisiensi transaksi, pengembangan pasar mata uang lokal, dan pada akhirnya mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah," tulis siaran pers BI yang dinukil dalam laman resminya, Jakarta, Kamis, 18 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Penyelesaian transaksi perdagangan bilateral dengan Thailand dan Malaysia yang difasilitasi bank ACCD di Indonesia menunjukkan progres positif. Hal ini terlihat dari tren peningkatan transaksi penyelesaian perdagangan dalam mata uang lokal yang difasilitasi oleh bank ACCD dan fitur operasionalisasi yang telah dijalankan bank ACCD.
 
Pada kuartal I-2019, total transaksi perdagangan melalui LCS menggunakan Baht (THB) mencapai USD13 juta (setara Rp185 miliar), meningkat dibandingkan periode yang sama 2018 sebesar USD7 juta (setara Rp96 miliar).
 
Sementara untuk transaksi LCS menggunakan ringgit (MYR) mencapai USD70 juta (setara Rp1 triliun), meningkat tajam dibandingkan periode yang sama di 2018 sebesar USD6 juta (setara Rp83 miliar).
 
Implementasi penggunaan LCS merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Memorandum of Understanding (MOU) antara BI, Bank Negara Malaysia (BNM), dan Bank of Thailand (BOT) pada 23 Desember 2016 dalam rangka mendorong penggunaan LCS.
 
Direktur Departemen Internasional BI Wahyu Pratomo sebelumnya mengatakan MOU yang dilakukan BI, BNM, dan BOT merupakan upaya untuk mengurangi ketergantungan USD, meningkatkan pengembangan pasar mata uang lokal, dan pelaksanaan transaksi langsung antarpelaku pasar (direct trading), sehingga diharapkan dapat berkontribusi positif dalam efisiensi pasar dan menjaga kestabilan nilai tukar.
 
"Harapannya kalau pakai lokal currrency saat ada gonjang ganjing, tidak terlalu mengganggu di kawasan. Dalam jangka panjang penggunaan LCS cukup signifikan bisa berdampak positif ke stabilitas keuangan," ungkap Wahyu dalam media briefing di ruang pres konferensi BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa, 9 April 2019.
 
Penggunaan LCS di kawasan semakin kuat dan meluas. Teranyar, Bangko Sentral ng Pilipinas (BSP) ikut melaksanakan penandatanganan penggunaan mata uang lokal untuk transaksi perdagangan bilateral di kawasan.
 
Kesepakatan LCS dinilai dapat memfasilitasi kegiatan ekonomi dan keuangan antara Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand secara lebih efisien. Melalui kesepakatan tersebut, pelaku usaha di keempat negara itu bisa menekan biaya transaksi dan meningkatkan efisiensi dalam transaksi perdagangan.
 
Selain itu, hal tersebut juga akan memberikan lebih banyak opsi bagi pelaku usaha dalam memilih mata uang untuk settlement transaksi perdagangan sehingga mengurangi risiko nilai tukar, terutama di tengah kondisi pasar keuangan global yang saat ini masih bergejolak.
 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:25
  • SUBUH04:35
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA18:59

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif