Ekonom Senior Center Of Reform on Economic (CORE) Indonesia Hendri Saparini (Foto: Metro TV)
Ekonom Senior Center Of Reform on Economic (CORE) Indonesia Hendri Saparini (Foto: Metro TV)

Perlambatan Ekonomi Ciptakan Dilema bagi Pengambil Kebijakan

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia
22 Desember 2018 12:01
Jakarta: Kondisi perekonomian yang melambat selalu menciptakan dilema bagi pengambil kebijakan. Apabila pemerintah ingin pertumbuhan meningkat sektor industri harus didorong. Tetapi ibarat dua sisi mata uang yang berlawanan, jika industri tumbuh, impor bahan baku dan jasa logistik akan naik sehingga memicu defisit neraca perdagangan.
 
Di sisi lain, Ekonom Senior Center Of Reform on Economic (CORE) Indonesia Hendri Saparini mengatakan, apabila industri stagnan dikhawatirkan makin banyak produk impor yang masuk. Kondisi itu juga akan membuat kinerja neraca transaksi berjalan menjadi merah. Ini adalah sebuah persimpangan rumit yang harus dilalui pemerintah.
 
"Pembuat kebijakan harus pintar mencari celah, bagaimana menghindari defisit transaksi berjalan tetapi pada saat yang sama dapat memberi angin pada sektor industri," ungkap Hendri, di Jakarta, Jumat, 21 Desember 2018.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melihat gejalanya, lanjutnya, di 2019 pertumbuhan industri manufatur akan marjinal di angka 4,26-4,3 persen. "Itu prediksi kami di CORE Indonesia. Sampai kuartal ketiga tahun ini saja pertumbuhannya masih di angka 4,32 persen dan ada perlambatan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya," kata Hendri.
 
Lebih lanjut, ia menegaskan, industri manufaktur merupakan salah satu tumpuan perekonomian nasional. Karenanya perlakuannya harus istimewa. Apalagi program Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun pertama dahulu adalah mendorong sektor industri.
 
"Tetapi nyatanya sampai sekarang tidak ada pertumbuhan yang signifikan," ungkapnya.
 
Menurutnya terdapat banyak komponen yang menjadi alasan CORE Indonesia tak mematok pertumbuhan tinggi untuk industri manufaktur. Pasalnya tahun depan biaya produksi akan melonjak oleh potensi naiknya harga Bahan Bakar Minyak (BBM), terutama BBM industri.
 
"Pelemahan rupiah juga masih akan memberi pengaruh pada biaya produksi," tuturnya.
 
Dirinya menambahkan tahun depan permintaan global diperkirakan menurun karena pelemahan ekonomi sehingga neraca ekspor berpeluang terdepresiasi. Lagi-lagi industri manufaktur yang paling terkena dampaknya karena dalam kondisi global yang lesu investasi sektor industri bisa dipastikan menurun.
 
"Situasi dalam negeri juga kurang mendukung ketika insentif pajak manufaktur hanya tumbuh dua persen pada dua tahun terakhir. Pemerintah seolah tak merasa iba meskipun manufaktur itu memiliki kontribusi pajak tertinggi sampai 31,8 persen. Sektor manufaktur juga menjadi pejuang tenaga kerja terutama pada sektor padat karya," pungkasnya.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif