Era Suku Bunga Tinggi Dorong Krisis Ekonomi di Negara Berkembang
Peneliti Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira. (FOTO: MI/Gino F Hadi)
Jakarta: Kebijakan suku bunga tinggi Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (the Fed) membuat sejumlah bank sentral di dunia terpaksa melakukan pengetatan moneter. Hal ini berpotensi menimbulkan 'Black Friday' atau krisis ekonomi di negara-negara berkembang seiring perbaikan ekonomi dan naiknya imbal hasil surat utang AS.

Peneliti Institute Development of Economic and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan sinyal krisis di negara berkembang begitu kencang lantaran indeks dolar AS sudah berada di level 95. Dampak tersebut sudah terasa di negara Turki, Argentina, dan Brasil lalu menjalar ke Asia Tenggara.

"Jika bunga acuan naik, Black Friday-nya bukan terjadi di AS atau negara maju tapi negara berkembang," ungkap Bhima saat dihubungi Medcom.id di Jakarta, Kamis, 21 Juni 2018.

Menurut Bhima, Thailand dengan surplus transaksi berjalan sebesar 10 persen saja mulai goyah akibat kebijakan suku bunga tinggi. Sebab itu, negara berkembang harus bersiap menghadapi capital outflow besar-besaran lantaran Thailand merupakan kunci penting terjadinya krisis moneter pada 1998 silam.

"Kalau yang 10 persen surplus saja sudah mulai anjlok mata uangnya, maka bersiap negara berkembang lain di Asia Tenggara menghadapi capital outflow yang cukup besar, termasuk Indonesia," jelasnya.

Adapun kebijakan suku bunga tinggi sama sekali tidak mempengaruhi negara maju. Terbukti bank Sentral Tiongkok (PBOC), Bank of Japan (BoJ), dan beberapa bank sentral negara maju lainnya, tetap mempertahankan pelonggaran kebijakan moneter.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai investor global lebih optimistis dengan kecenderungan suku bunga tinggi. Pasalnya, arah kebijakan The Fed sejak Powell menjabat sudah diprediksi condong pada pengetatan moneter. Hal ini tentu memudahkan pasar dalam melakukan proyeksi ke depan.

"Ya kredibilitas bank sentral AS sangat berpengaruh makanya kejelasan arah kebijakan sangat ditunggu pasar," imbuh Josua.

Seperti diketahui, The Fed di bawah kepemimpinan Jerome Powell dianggap paling agresif dalam menaikkan tingkat suku bunga. Bahkan sepanjang 2018, Powell  berencana menaikkan empat kali suku bunga acuan federal fund rate (FFR). Saat ini suku bunga AS telah naik sebanyak dua kali yakni, para Maret lalu dengan kisaran 1,5-1,75 persen dan Juni lalu pada kisaran 1,75-2,00 persen.

Kenaikan tingkat suku bunga ini dipengaruhi oleh inflasi dan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS di angka 2,7 persen pada 2018 dan 2,4 persen pada 2019. Selain itu, tingkat pengangguran AS diperkirakan akan turun menjadi 3,6 persen atau lebih rendah dari perkirakan sebelumnya.

 



(AHL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id