BI Bali Antisipasi Kenaikan Inflasi yang Dipicu Agenda Besar
Ilustrasi. (Foto: Antara/Rosa Panggabean).
Denpasar: Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) mengantisipasi potensi kenaikan inflasi di Bali yang dipicu pelaksanaan agenda besar seperti Pilkada serentak dan pertemuan tahunan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia.

"Kami bersama TPID intensif merancang strategi untuk mengendalikan harga sehingga inflasi bisa diarahkan ke level 3,5 plus minus satu persen," kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana di Denpasar, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 15 Februari 2018.

Menurut Causa yang sekaligus Wakil Ketua TPID Bali itu, pelaksanaan agenda besar biasanya mendorong tingginya permintaan kebutuhan sehingga diperkirakan memicu kenaikan harga. Sejumlah langkah disusun, lanjut pria yang akrab disapa CIK itu, untuk menekan potensi kenaikan inflasi di antaranya memastikan keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, distribusi dan komunikasi antarinstansi.

Bank sentral di Bali itu membuat pemberdayaan ekonomi masyarakat khususnya petani dan pelaku usaha kecil menengah (UMKM) melalui cluster atau melalui kelompok tani dan usaha.

BI tahun ini memperluas pengembangan cluster di antaranya bawang putih di Desa Wanagiri Buleleng dan melanjutkan pengembangan bawang merah di Desa Songan Kabupaten Bangli dan di Gerokgak Buleleng.

Bank sentral itu juga meningkatkan potensi ekonomi cluster petani cokelat di Jembrana dan akan melanjutkan cluster cabai di Mertabuana Desa Ababi Kabupaten Karangasem.

Pengembangan lahan percontohan tersebut, lanjut dia, memanfaatkan pupuk organik yang sebelumnya telah diterapkan di sejumlah cluster termasuk padi di antaranya di Subak Pulagan dan Getas di Kabupaten Gianyar.

Upaya tersebut dilakukan untuk memastikan ketersediaan pasokan, distribusi dan harga di Bali mengingat beberapa kebutuhan pokok di Pulau Dewata masih "impor" dari luar daerah.

BI mencatat inflasi di Bali selama Januari 2018 mencapai 0,93 persen dengan inflasi tahunan yang diperkirakan sebesar 2,77 persen atau lebih rendah dibandingkan inflasi Desember 2017 mencapai 3,32 persen.

CIK mengatakan pencapaian inflasi tahun lalu yang masih wajar itu diperkirakan karena tidak adanya kenaikan harga BBM, kondisi cuaca yang mendukung, langkah pengendalian inflasi, kelancaran distribusi, dan pasokan serta penetapan harga komoditas strategis.

Sementara itu selain karena dipicu agenda besar tersebut, CIK menambahkan potensi kenaikan inflasi tahun ini dapat dipicu peningkatan kunjungan wisatawan, peningkatan upah minimum atau pendapatan masyarakat dan potensi peningkatan tarif tenaga listrik (TTL).

 



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id