NEWSTICKER
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin.

BI Klaim Inflasi 2019 Terendah Sejak 1999

Ekonomi inflasi bank indonesia
Husen Miftahudin • 03 Januari 2020 16:13
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mengklaim inflasi sepanjang 2019 merupakan yang terendah selama 20 tahun terakhir. Inflasi selama 2019 berada di angka 2,72 persen secara tahun ke tahun alias year on year (yoy).
 
"Inflasi 2,72 persen ini adalah terendah selama 20 tahun terakhir. Inflasi yang rendah itu adalah 1999 setelah krisis Asia, krisis Indonesia, waktu itu kurang lebih 1,9 persen," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di kompleks perkantoran Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 3 Januari 2020.
 
Bahkan, akunya, realisasi inflasi Desember 2019 lebih rendah dari ramalan bank sentral. Komponen inti misalnya, otoritas memprakirakan tingkat inflasinya berada di level 0,45 persen. Nyatanya, komponen inti bergerak lebih rendah dengan angka 0,11 persen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Perbedaan utamanya adalah satu, inflasi transportasi itu yang lebih rendah. Kita perkirakan 0,06 persen dan realisasinya 0,03 persen," ungkap Perry.
 
Kemudian inflasi perumahan. Bank Indonesia memprediksi laju inflasinya bergerak ke angka 0,05 persen. Namun realisasinya inflasi perumahan pada Desember 2019 hanya berada di tingkat 0,02 persen.
 
"Demikian juga inflasi bahan-bahan makanan yang juga lebih rendah. Secara keseluruhan Alhamdulilah kita tutup 2019 yang lalu dengan harga yang sangat terkendali, year on year-nya 2,72 persen merupakan inflasi terendah selama 20 tahun terakhir," tukas dia.
 
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan selama Januari-Desember 2019 terjadi kenaikan indeks dari 135,39 pada Desember 2018 menjadi 139,07 pada Desember 2019. Seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi, yaitu kelompok bahan makanan sebesar 4,28 persen; serta kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 3,97 persen.
 
Kemudian, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 1,75 persen; kelompok sandang sebesar 4,93 persen; kelompok kesehatan sebesar 3,46 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 3,25 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,17 persen.
 
Selama 2019 seluruh kelompok pengeluaran memberikan andil/sumbangan inflasi, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 0,86 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,68 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,44 persen; dan kelompok sandang sebesar 0,32 persen.
 
Lalu, kelompok kesehatan sebesar 0,15 persen; kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,25 persen; dan kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,02 persen. "Komoditas utama yang dominan penyumbang inflasi di 2019 ada emas dan perhiasan, yang tidak muncul di 2018," paparnya.
 
Beberapa komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi selama 2019, antara lain emas perhiasan sebesar 0,16 persen; cabai merah sebesar 0,15 persen; tarif sewa rumah dan bawang merah masing-masing sebesar 0,10 persen; dan ikan segar, rokok kretek filter, nasi dengan lauk masing-masing sebesar 0,09 persen.
 
Kemudian, tarif kontrak rumah 0,08 persen; bawang putih dan upah pembantu rumah tangga masing-masing 0,06 persen; uang sekolah dasar, mie, rokok kretek, dan cabai rawit masing-masing 0,05 persen; dan uang sekolah menengah pertama dan uang kuliah akademi/PT masing-masing 0,04 persen.
 
Inflasi tertinggi pada 2019 terjadi pada Mei sebesar 0,68 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi pada bulan bulan tersebut, antara lain cabai merah, daging ayam ras, bawang putih, ikan segar, tarif angkutan antar kota, telur ayam ras, kentang, tomat sayur, cabai rawit, tarif angkutan udara, dan tarif kereta api.
 
Lalu ikan diawetkan, bayam, kangkung, sawi hijau, wortel, apel, jeruk, pepaya, kelapa, nasi dengan lauk, gula pasir, rokok kretek filter, dan tarif parkir. Sedangkan deflasi tertinggi pada tahun 2019 terjadi pada September sebesar 0,27 persen.
 
Komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan deflasi pada bulan tersebut, antara lain cabai merah, bawang merah, daging ayam ras, tomat sayur, cabai rawit, telur ayam ras, ikan segar, ketimun, pir, tomat buah, bawang putih, dan tarif angkutan udara.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif