Ekonom: Ekonomi Indonesia Jauh dari Krisis
Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono. Dok:MI.
Jakarta: Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan kondisi perekonomian Indonesia saat ini masih jauh dari krisis. Hal itu terlihat dari sejumlah indikator ekonomi yang masih cukup baik.

Menurut Tony indikator penilaian kondisi perekonomian Indonesia yang diumumkan kubu Prabowo tidak komprehensif. Situasi ekonomi hanya dilihat dari rupiah dan defisit transaksi berjalan (CAD). 

"Dalam tahun politik, kondisi ekonomi bisa didramatisasi dan dimaknai berbeda karena melihatnya hanya dari 1-2 indikator saja (rupiah dan CAD), dan tidak melihat secara komprehensif," tegas Tony dikutip dari Media Indonesia, Minggu, 7 Oktober 2018. 

Menurut dia, perekonomian memang mengalami tekanan dilihat dari pelemahan rupiah yang terjadi akibat defisit perdagangan dan defisit transaksi berjalan. Namun, menurutnya, indikator lainnya masih cukup baik. Hal itu terlihat dari pertumbuhan ekonomi yang tumbuh 5,1 hingga 5,2 persen, inflasi 2,88 persen (year on year), dan cadangan devisa masih sebesar USD118 miliar. 

Pernyataan Tony itu sekaligus menepis kekhawatiran yang disampaikan kubu calon presiden nomor urut 2 Prabowo Subianto. Saat bertemu sejumlah ekonom, Jumat 5  Oktober 2018 lalu, seperti mantan Menteri Ekonomi Rizal Ramli, pakar ekonomi Fuad Bawazier, dan Drajad Wibowo, Prabowo menyebut perkembangan ekonomi Indonesia rawan.

Fuad yang anggota tim ekonomi Prabowo-Sandiaga mengatakan, saat ini tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS indikasinya sama bahkan cenderung memburuk dan bisa mengarah sampai ke angka Rp16.000 per USD. Dia menyoroti bahwa ekspor tidak bisa didongkrak bahkan pertumbuhannya kalah dengan impor sampai tahun depan bisa cenderung melemahkan nilai tukar.




(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id