Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (MI/PERMANA)
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (MI/PERMANA)

Oleh-Oleh Sri Mulyani dari Pertemuan IMF-Bank Dunia

Ekonomi pertumbuhan ekonomi ekonomi indonesia
Eko Nordiansyah • 16 April 2019 11:15
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati memberikan 'oleh-oleh' berupa rangkuman hal-hal yang telah dibahas dalam pertemuan Spring Meetings Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia 2019 di Washington DC, Amerika Serikat, pada 12-14 April 2019.
 
Sri Mulyani menyampaikan ada beberapa hal yang perlu diwaspadai yaitu risiko global dan regional dengan pelemahan pertumbuhan ekonomi dunia dan perdagangan internasional. Perkembangan global ini perlu diwaspadai dalam mengelola dan menjaga ekonomi Indonesia.
 
"Menurut perkiraan, pertumbuhan ekonomi dunia akan melemah dan perdagangan internasional masih mengalami pelemahan. Ini artinya kita harus waspada terhadap risiko global dan risiko regional," kata dia, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Selasa, 16 April 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Oleh karena itu, pertemuan IMF-Bank Dunia juga membahas mengenai bagaimana negara-negara dapat meminimalisasi risiko melalui desain kebijakan dan koordinasi agar dapat menjalankan ekonomi yang menguntungkan negara masing-masing sekaligus membangun optimisme ekonomi dunia.
 
"Indonesia telah berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan untuk membahas kebijakan fiskal APBN, kebijakan moneter dan kebijakan di bidang keuangan maupun perdagangan. Ini semua perlu kita waspadai sekaligus untuk kita formulasikan kebijakan agar momentum pertumbuhan ekonomi di Indonesia bisa kita perbaiki dan kita pertahankan," paparnya.
 
Sri Mulyani mengatakan Pemerintah Indonesia terus mencoba mempertahankan pertumbuhan di atas lima persen dengan menjaga defisit APBN agar bisa menurun, menjaga stabilitas harga-harga, mendorong investasi, serta meningkatkan ekspor.
 
"Saat ini, kita akan terus menjaga pertumbuhan ekonomi kita di atas lima persen dengan defisit APBN yang terus dijaga menurun, dan stabilitas harga-harga serta investasi yang terus didorong dengan meningkatkan kegiatan ekspor," tegas dia.
 
Selain itu, dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai risiko peningkatan cyber trap atau kerapuhan sektor keuangan yang berasal dari digital economy. Hal ini meliputi masalah perpajakan, distribusi, kompetisi, hingga proteksi data konsumen.
 
Dirinya menambahkan dalam pertemuan IMF-Bank Dunia ini negara-negara anggota membahas bagaimana koordinasi dari perpajakan internasional agar semakin diperkuat. Ini tak lepas dari akibat digitalisasi, di mana peranan e-commerce dan digital economy makin meluas dan akan makin meningkat.
 
"Banyak negara membahas aspek perpajakan tapi juga aspek perbaikan distribusi, kompetisi serta bagaimana menjaga kerahasiaan data dan meningkatkan proteksi data-data konsumen. Kita juga membahas kerja sama bagaimana menghindari guncangan dari teknologi ini," pungkasnya.
 
Pembahasan dalam Spring Meetings juga berfokus pada cara meningkatkan kemampuan kebijakan untuk meningkatkan produktivitas terutama bagi masyarakat yang mengalami era digitalisasi, bagaimana desain kebijakan fiskal untuk mendorong produktivitas, meningkatkan human capital, dan bagaimana tenaga kerja dan generasi muda mendapat manfaat dari globalisasi dan pertumbuhan ekonomi.
 

(ABD)
MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif