Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA
Ilustrasi. FOTO: MI/ATET DWI PRAMADIA

5 Pertimbangan Ekonomi Indonesia Diproyeksi Tumbuh 3,9% di 2021

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Indonesia Pemulihan Ekonomi Nasional
Angga Bratadharma • 26 Januari 2021 08:07
Jakarta: Chief Economist CIMB Niaga Adrian Panggabean memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 3,9 persen di 2021 dengan lima pertimbangan utama. Kondisi itu akan dimulai dengan geliat perekonomian pada kuartal satu di tahun ini yang diramal tumbuh 0,8 persen secara tahun ke tahun (yoy).
 
"Ada lima faktor yang memengaruhi dinamika ekonomi di 2021. Dua faktor pertama bersifat mendukung angka pertumbuhan yang lebih tinggi dan tiga faktor sisanya bersifat menurunkan prospek laju pertumbuhan ekonomi di 2021," kata Adrian, dikutip dari risetnya, Selasa, 26 Januari 2021.
 
Pertama, base effects menjelaskan sekitar tiga perempat dari cerita pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2021. Sisanya diterangkan oleh normalisasi perekonomian di Pulau Jawa (hampir 60 persen dari total PDB Indonesia), yang ditopang oleh sektor keuangan, telekomunikasi, infrastruktur publik, dan kesehatan, sejalan dengan dimulainya program vaksinasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kedua, prospek dorongan likuiditas lewat stimulus fiskal terutama belanja modal yang didukung oleh penurunan BI7DRRR lebih lanjut ke arah 3,50 persen. Khusus terkait pelonggaran moneter, BI7DRRR sebaiknya tidak diturunkan lebih rendah dari 3,50 persen karena dua alasan.
 
"Satu konsideran eksternal terkait masih sangat besarnya ketidakpastian arah pergerakan aset global di 2021 yang pasti akan berdampak pada stabilitas rupiah. Kedua akonsideran domestik yakni untuk menjaga monetary tank tidak terlalu kosong untuk mencegah munculnya komplikasi saat akan dilakukannya normalisasi moneter usai 2022/2023," tuturnya.
 
Ketiga, sebagaimana lazimnya terjadi setiap tahun, dorongan fiskal akan kembali terhambat tata administratif sehingga sisi pengeluaran APBN hanya akan mencapai maksimum 85-90 persen dari anggaran. Di sisi penerimaan, APBN akan terkendala oleh kurangnya penerimaan pajak sebagai akibat dari belum pulih sepenuhnya kondisi perekonomian.
 
Keempat, terkendalanya mobilitas faktor produksi sebagai konsekuensi dari masih akan berkepanjangannya pandemi di 2021 yang akan menyebabkan ekspansi produksi belum terjadi secara signifikan. Kelima, pengurangan belanja modal selama 2020 diperkirakan terus berlanjut di 2021. Paling tidak di segmen korporasi swasta.
 
"Dilihat dari perspektif ini, hanya tersisa dua katalis investasi yang diharapkan berperan sebagai pengubah permainan yaitu pertama, implementasi dari Omnibus Law Cipta Kerja mulai Februari 2021. Kedua, lembaga Sovereign Wealth Fund (SWF) yang diharapkan telah berfungsi penuh dan menjalankan operasi investasinya juga di Februari 2021," pungkasnya.
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif