Ilustrasi (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Daya Tahan Rupiah di Tengah Gejolak Global

Ekonomi rupiah menguat kurs rupiah
Angga Bratadharma • 01 Oktober 2016 13:09
medcom.id, Jakarta: Nilai tukar rupiah kembali dalam tren pemulihan setelah sempat berada di titik terendah sejak krisis 1998 pada akhir September tahun lalu. Bahkan, nilai tukar rupiah termasuk mata uang yang kinerjanya paling baik di Asia saat ini. Kendati demikian, rupiah masih rentan terhadap risiko naiknya suku bunga Amerika Serikat (AS).
 
"Daya tahannya juga bergantung pada keberhasilan pemerintah menarik modal dari luar negeri," kata Ekonom Senior DBS Group Research Philip Wee, seperti dikutip dari riset DBS yang berjudul 'IDR—towards further resilience', di Jakarta, Sabtu (1/10/2016).
 
Ia menambahkan, membaiknya kinerja nilai tukar rupiah ini terutama didukung oleh sejumlah faktor fundamental domestik. DBS Group Research mencatat kepercayaan investor meningkat seiring perbaikan Produk Domestik Bruto (PDB), yang telah kembali ke level lima persen pada kuartal IV-2015.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tingkat inflasi yang turun ke 3-5 persen mulai November 2015 juga mendorong Bank Indonesia lima kali menurunkan suku bunga sepanjang 2016 ini. Investor asing pun telah meningkatkan kepemilikan obligasi negara menjadi 5,4 persen terhadap PDB pada semester I-2016, dari 4,8 persen pada akhir 2015.
 
Selain itu, defisit neraca transaksi berjalan stabil di level 2,1 persen terhadap PDB pada kuartal IV-2015. Meski negatif, namun ada perbaikan neraca yang mengindikasikan tekanan terhadap ekspor sudah berkurang. "Faktor-faktor ini yang memberikan kontribusi pada ketahanan rupiah selama periode volatilitas global tahun ini," tuturnya.
 
DBS Group Research menurunkan proyeksi rentang perdagangan rupiah terhadap dolar antara 5,5 persen-6,1 persen. USD pun diperkirakan tidak akan mencapai lebih dari Rp14.000 untuk satu tahun ke depan. Kendati demikian, rupiah tidak berarti kebal terhadap pergerakan mata uang global.
 
DBS Group Research memandang kerentanan likuiditas Indonesia memang sudah berkurang dibandingkan sebelumnya. Akan tetapi, rencana kenaikan suku bunga AS tetap bisa memengaruhi pergerakan rupiah ke depan. Faktor risikonya terutama berasal dari utang luar negeri yang terus meningkat serta cadangan devisa yang masih rendah.
 
"Tekanan jual terhadap nilai tukar rupiah dapat balik lagi jika utang luar negeri jangka pendek dan defisit transaksi berjalan memburuk lagi," pungkas Wee.
 

(ABD)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif