Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Rupiah Perkasa Pascapengumuman Fed Fund Rate

Ekonomi kurs rupiah the fed
Husen Miftahudin • 21 Desember 2018 16:01
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyatakan nilai tukar rupiah terhadap USD kian perkasa usai bank sentral AS, The Federal Reserve, menaikkan suku bunga acuannya menjadi di kisaran 2,25 hingga 2,5 persen. Meskipun nilai tukar rupiah sempat mengalami gejolak, namun kondisi tersebut hanya berlangsung sementara.
 
"Alhamdulillah nilai tukar dari kemarin bergerak stabil, bahkan ada kecenderungan menguat. Meskipun dari sisi globalnya terjadi ketidakpastian karena adanya pengumuman Fed Fund Rate, namun pelaku pasar sudah mengestimasinya kalau tahun depan probabilitas kenaikan Fed Fund Rate menjadi dua kali," kata Gubernur BI Perry Warjiyo di kompleks perkantoran BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 21 Desember 2018.
 
Sementara dari sisi perkiraan BI, tahun depan The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali sehingga mendorong bank sentral untuk melakukan antisipasi dini terhadap gejolak perekonomian global. Menurutnya, faktor eksternal itu memberi dampak positif bagi perekonomian Indonesia sehingga menambah kepercayaan investor asing untuk meningkatkan penanaman modalnya.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami masih melihat bahwa nilai tukar rupiah sekarang ini masih undervalued dan ke depannya faktor-faktor positif itu akan membawa rupiah lebih stabil dan cenderung menguat," beber dia.
 
Selain itu, tambah Perry, penguatan mata uang Garuda juga dipengaruhi oleh semakin bekerjanya mekanisme pasar valuta asing (valas). Pasokan dan kebutuhan valas di pasar spot, swap, dan domestic non delivery forward (DNDF) diklaim semakin berkembang.
 
"Itu memberikan alternatif bagi korporasi maupun investor dalam memenuhi valas-nya, sehingga memperkuat mekanisme pasar dan juga memberikan confidence kepada pasar," imbuhnya.
 
Kebijakan-kebijakan yang ditempuh pemerintah, BI, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta otoritas terkait terhadap perekonomian Indonesia juga membuat nilai tukar rupiah semakin cemerlang. Pasalnya, upaya-upaya tersebut memberi kejelasan mengenai stabilitas makroekonomi, sistem keuangan yang terjaga, momentum pertumbuhan ekonomi yang terus berlanjut, dan mekanisme pasar yang semakin bekerja secara baik.
 
"Oleh karena itu kemarin di pagi pascapengumuman (The Fed) memang sempat ada tekanan, tapi hanya bergerak sebentar. Siangnya mulai stabil dan bahkan cenderung menguat, dan hari ini juga kecenderungannya menguat," jelas dia.
 
Perry bilang, prospek ekonomi Indonesia di tahun depan akan lebih baik dibandingkan dengan 2018, baik dari sisi pertumbuhan ekonomi hingga current account deficit (CAD). Perkiraan bank sentral terhadap pertumbuhan ekonomi di triwulan III-2018 masih cukup baik karena didukung konsumsi dan investasi yang juga baik.
 
"Juga neraca pembayaran yang mengalami surplus meskipun CAD-nya itu masih kemungkinannya di atas tiga persen, tapi neraca modalnya surplus jauh lebih besar. Sehingga secara keseluruhan neraca pembayaran itu surplus dan memberikan penjelasan kepada cadangan devisa kita naik," pungkas Perry.
 
Pada perdagangan Jumat pagi, 21 Desember 2018, nilai tukar rupiah terhadap USD berada di jalur hijau dibandingkan dengan perdagangan sore di hari sebelumnya di posisi Rp14.472 per USD. Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi dibuka menguat ke Rp14.502 per USD.
 

 

(AHL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif