Ilustrasi ekonomi indonesia. Foto : MI/MOHAMAD IRFAN.
Ilustrasi ekonomi indonesia. Foto : MI/MOHAMAD IRFAN.

Fraksi NasDem Pertimbangkan Usulan Revisi Target Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi nasdem ekonomi indonesia
Husen Miftahudin • 12 Februari 2020 20:25
Jakarta: Fraksi Partai NasDem mempertimbangkan usulan pengamat terhadap revisi target pertumbuhan ekonomi di tahun ini. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020, pemerintah mematok target perekonomian Indonesia tumbuh 5,3 persen.
 
Wakil Sekretaris Fraksi NasDem Charles Meikyansyah mengakui merebaknya virus korona membuat ekonomi global kian bergejolak. Maklum virus yang berasal dari Kota Wuhan, Hubei itu melumpuhkan perekonomian Tiongkok. Negeri Tirai Bambu tersebut merupakan raksasa ekonomi dunia.
 
"Dengan adanya virus korona, kemudian perang dagang Amerika Serikat dan Tiongkok yang belum selesai, serta ketegangan Amerika dengan Iran, menyebabkan kontraksi ekonomi secara global ini menjadi tertekan," ujar Charles dalam diskusi di ruang rapat Fraksi Partai NasDem DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurutnya, gejolak-gejolak tersebut berimbas kepada ekonomi Indonesia. Ini tergambar jelas pada tak tercapainya target penerimaan pajak di 2019. Tahun lalu realisasi penerimaan pajak terkumpul sebanyak Rp1.332,1 triliun atau hanya 84,4 persen dari target sebesar Rp1.577,6 triliun.
 
"Menurut kami yang harus diperbaiki adalah soal perpajakan, sistem perpajakan kita harus dilakukan reformasi. Sistem perpajakan ini, semua kelas yang merupakan wajib pajak harus benar-benar kena. Kelas menengah, atas, ataupun di kelas bawah yang memang sudah kena wajib pajak itu bisa dikenakan pajak," ungkap dia.
 
Fraksi NasDem juga menyoroti permasalahan berbagai data. Sebab, ungkap dia, permasalahan ini berimbas besar bagi penyusunan kebijakan pemerintah terhadap penyaluran subsidi. Bila terjadi kekeliruan, penyaluran subsidi tersebut dikhawatirkan tidak tepat sasaran.
 
"Kita melihat bahwa apapun yang ingin kita lakukan dalam membenahi ekonomi Indonesia adalah masalah data. Kita tidak ingin kemudian BPJS (Kesehatan), subsidi di bidang energi, dan lain sebagainya itu salah sasaran," tegas Charles.
 
Selain itu. pembenahan iklim investasi yang perlu kepastian hukum dan kepastian usaha, berpihak pada pemain lama dan baru. Keringanan pajak dan kemudahan berinvestasi harus dilakukan semua pihak, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
 
"Kadang-kadang upaya-upaya di tingkat pusat ini tidak lepas dari apa yang terjadi di daerah. Sehingga, menurut saya, komunikasi dan koordinasi antara pusat dan daerah itu menjadi hal yang sangat penting untuk menyelesaikan masalah-masalah pada iklim investasi ini," urai Charles.
 
Kondisi ini membuat Fraksi NasDem mempertimbangkan pembenahan pada target-target perekonomian domestik di APBN Perubahan 2020. Paling utama ialah pertimbangan terhadap target pertumbuhan ekonomi domestik akibat mewabahnya virus korona.
 
"Kita melihat dengan tingkat pertumbuhan (ekonomi) hari ini yang memang di luar target 2019 membuat tekanan ekonomi buat kita ini memang menjadi cukup besar, ditambah dengan adanya virus korona. Ini menjadi referensi penting bagi Fraksi NasDem di mana sekarang-sekarang ini sudah mulai untuk APBN-P maupun beberapa hal yang sangat penting," ucap dia.
 
Di tempat yang sama, Direktur Eksekutif Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah meyakini wabah virus korona berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi domestik. Bahkan dia meramal pertumbuhan ekonomi RI tahun ini sulit menembus lima persen.
 
"Dengan virus korona ini kita bisa meyakini akan di bawah target, bisa di bawah lima persen. Ini dengan asumsi kalau virus korona ini berlarut-larut dan pemerintah tidak melakukan respons," ujar Piter.
 
Menurutnya, respons pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan yang tepat sangat diperlukan di tengah mewabahnya virus korona. Bila pemerintah melakukan hal demikian, Piter optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen di 2020 bakal tercapai.
 
"Angka (pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini) akan sangat bergantung kepada responsnya pemerintah. Pemerintah melakukan respons keijakan yang pas enggak, kalau kebijakannya pas, target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen masih sangat mungkin untuk dicapai," tuturnya.
 
Apalagi, akunya, CORE memprediksi pertumbuhan ekonomi RI tahun ini tanpa adanya virus korona hanya berada pada kisaran 5,1 persen. Dengan asumsi, pemerintah tidak melakukan terobosan kebijakan dan pertumbuhan konsumsi domestik yang melambat.
 
Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah memperbaiki postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dengan menyinergikan kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Tujuannya, agar postur pembaruan APBN bisa benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
 
"Saya mengusulkan agar APBN harus ditinjau, karena APBN itu adalah tools dalam rangka pemerintah untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi kita. Oleh karena itu kita harus mengoptimalkan peran APBN dalam rangka untuk mendorng kembali pertumbuhan ekonomi kita," pungkas Piter.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif