Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi Bisa Sejalan
Illustrasi. MI/Galih Pradipta.
Semarang: Mantan Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman D Hadad menyatakan stabilitas dan pertumbuhan ekonomi suatu negara mestinya sejalan.

"Selama ini, di mana pun, di masing-masing negara selalu dihadapkan pada pilihan antara stabilitas atau pertumbuhan ekonomi," katanya, saat pengukuhannya sebagai guru besar, di Semarang  dikutip dari Antara, Minggu, 14 Januari 2018. 

Sosok kelahiran Bekasi, 3 April 1960 itu dikukuhkan sebagai guru besar tidak tetap Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Diponegoro Semarang, dan menjadi guru besar tidak tetap keenam yang dimiliki Undip.


Muliaman menjelaskan dikotomi antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi terjadi karena keduanya saling berkaitan, utamanya jika sektor industri keuangan tidak stabil pasti memengaruhi pertumbuhan ekonomi.

"Bagaimana agar tidak terjebak pada situasi harus memilih, antara stabilitas atau pertumbuhan ekonomi. Yakni, dengan mengikat erat keduanya agar berjalan bersama," kata jebolan doktor Monash University, Melbourne itu.

Ia mengajak berkaca pada krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada rentang 1997-1998 dan 2007-2008 yang sebenarnya merupakan cermin ketidakstabilan industri keuangan yang sebenarnya berperan sangat penting.

"Peran industri keuangan ibarat jantung yang memompa darah, sangat vital dalam suatu negara. Karena tidak stabil maka upaya yang dilakukan terjebak pada bagaimana menstabilkan sektor industri keuangan," katanya.

Di sisi lain, kata Ketua Umum Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) dan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES), sekaligus Ketua Majelis Wali Amanat Undip itu, tugas industri keuangan untuk mendorong pertumbuhan menjadi terlupakan.

"Krisis ekonomi setidaknya disebabkan dua faktor, yakni fundamental menyangkut defisit anggaran yang besar dan struktur keuangan yang relatif dangkal. Kedua, 'behaviour' atau perilaku spekulasi yang memperburuk situasi," jelasnya.

Artinya, kata dia, sebenarnya upaya mengantisipasi krisis bisa dilakukan dengan menekan perilaku masyarakat yang selama ini kurang menyadari sehingga memunculkan risiko atau akses yang masih sulit.

"Sepanjang 20 tahun terakhir ini terjadi pergeseran fokus, yakni ketika krisis terjadi ketidakstabilan yang kemudian fokus kebijakannya untuk menyehatkan dan menstabilkan. Mayoritas, upaya penyehatan yang dilakukan," tambahnya.

Sekarang ini, kata Muliaman, sudah jauh dari krisis sehingga banyak yang mengupayakan terjadinya pertumbuhan perekonomian, di antaranya dengan pembangunan infrastruktur yang kian gencar di berbagai wilayah.






(SAW)