Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO
Ilustrasi. FOTO: MI/ROMMY PUJIANTO

Akhir 2019, BI Catat Ekspansi Industri Manufaktur Melambat

Ekonomi bank indonesia ekonomi indonesia
Antara • 14 Januari 2020 11:01
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat ekspansi kinerja industri pengolahan pada kuartal IV-2019 melambat dibandingkan dengan kuartal III-2019 sejalan dengan penurunan indikator Prompt Manufacturing Index (PMI) BI yang turun dari 52,04 persen menjadi 51,05 persen.
 
Level PMI BI yang di atas 50 persen menggambarkan sektor manufaktur yang mengalami ekspansi. Sementara, PMI BI di bawah 50 persen mengindikasikan kontraksi. Kondisi ini tentu diharapkan kembali membaik di masa-masa mendatang.
 
"Ekspansi kinerja industri pengolahan terjadi pada sebagian besar subsektor, dengan ekspansi tertinggi pada industri semen dan barang galian nonlogam yang didorong oleh ekspansi volume produksi dan pesanan barang input," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 14 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan sub sektor ekonomi, PMI industri semen naik dari 53,19 persen menjadi 57,43 persen karena produksi dan pesanan barang input. Kemudian, PMI logam dasar, besi dan baja nilainya naik dari 50,05 persen ke 50,53 persen.
 
Dari komponen pembentuk PMI, ekspansi industri yang terjadi pada tiga bulan terakhir ditopang oleh komponen volume produksi sebesar 53,42 persen, volume pesanan 53,27 persen, dan volume persediaan barang jadi 52,56 persen. Meski demikian, ekspansi ketiganya lebih rendah dibanding triwulan III 2019, seiring menurunnya permintaan.
 
Lebih lanjut, BI memperkirakan ekspansi industri pengolahan bakal lebih tinggi pada kuartal I-2020. Indikasinya terlihat dari proyeksi PMI BI yang naik menjadi 52,73 persen.
 
Kegiatan usaha yang diprediksi bakal ekspansi diprediksi terjadi pada sebagian besar subsektor. Adapun ekspansi tertinggi terjadi pada industri semen dan barang galian non logam (56,85 persen). Kemudian, industri barang kayu dan hasil hutan lainnya (53,79 persen), serta industri makanan, minuman dan tembakau (53,03 persen).
 
(ABD)


FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif