Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto : Medcom/Eko.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Foto : Medcom/Eko.

Disentil Soal Utang RI yang Melonjak, Begini Pembelaan Sri Mulyani

Eko Nordiansyah • 24 Januari 2022 18:24
Jakarta: Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pemerintah selalu berhati-hati dalam mengelola keuangan negara, termasuk mengenai masalah utang di dalamnya. Ia menyebut keputusan menarik utang untuk memenuhi kebutuhan anggaran telah melalui proses yang panjang hingga melibatkan DPR dan DPD.
 
Ia menegaskan pemerintah tidak bisa menyembunyikan utang yang ditarik agar terlihat tidak mengalami kenaikan. Apalagi pada saat kondisi pandemi covid-19 seperti sekarang ini, pemerintah membutuhkan anggaran belanja yang cukup besar sementara pendapatan negara harus berkurang karena ekonominya tertekan.
 
"Kalau kita berutang itu dilakukan dalam mekanisme APBN. Kalau ditanya apa benar utang dipecah supaya enggak kelihatan? APBN itu kita susun bersama. Jadi enggak mungkin saya sembunyikan ke kiri dan ke kanan. Kalau ada yang bisa sembunyikan, ya tukang sulap," kata Sri Mulyani dalam rapat dengan DPD RI, Senin, 24 Januari 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sri Mulyani menceritakan proses pencarian utang akan selalu berkaitan dengan penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pembahasan APBN sendiri melibatkan berbagai pihak seperti Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Bank Indonesia (BI), hingga disetujui di DPR.
 
"Kami sampaikan kira-kira tahun depan sekian, suku bunga sekian, dan pembangunan maunya sekian. Kita bahas dengan DPD, kemudian dikasih komentar. DPR juga kasih komentar. Kesimpulannya saya tulis lagi buat dibawa ke kabinet, kemudian Pak Presiden menulis nota keuangan. Jadi enggak mungkin saya sembunyikan," ungkapnya.
 
Ia menambahkan kondisi pengelolaan utang Indonesia jauh lebih baik dibandingkan dengan negara maju maupun negara-negara berkembang lainnya. Hal ini terlihat dari defisit anggaran Indonesia yang lebih kecil karena berada di single digit, sedangkan negara lain ada yang sampai double digit.
 
"Kalau kita lihat dibandingkan negara di dunia dilihat dari kontraksi ekonomi, speed recovery dan dari sisi size APBN, defisitnya sangat terukur meskipun tadi pimpinan menekankan mengenai utang yang cukup banyak. Namun kalau kita bandingkan dengan negara-negara di dunia kenaikan defisit kita, kenaikan utang kita jauh lebih terukur," jelas dia.
 
Hingga akhir 2021, utang pemerintah mencapai Rp6.908,87 triliun dengan rasio utang 41 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) RI. Meski demikian, defisit masih terjaga dan lebih rendah dari prediksi dengan realiasi 4,56 persen terhadap PDB di akhir 2021 atau lebih kecil dibandingkan sejumlah negara.
 
"Berkali-kali karena saya juga melihat hampir semua statement selalu melihatnya hanya lebih kepada sisi utang APBN kita sendiri, seolah-olah kita menghadapi pandemi sendirian di dunia padahal seluruh dunia menghadapi hal yang sama. Karena ini sudah masuk tahun ketiga kita bisa melihat respons kita dari sisi APBN sangat terukur akuntabel dan cukup efektif," pungkasnya.
 
(SAW)


LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif