Pemerintah Harus Perhatikan Fundamental Ekonomi

Kautsar Widya Prabowo 09 Mei 2018 23:10 WIB
ekonomi indonesia
Pemerintah Harus Perhatikan Fundamental Ekonomi
Ekonom Tony Prasetiantono. (FOTO: Medcom.id/Kautsar)
Jakarta: Pemerintah diimbau memperhatikan fundamental ekonomi Indonesia agar tidak terjadi kembali krisis ekonomi 1998.

Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada Tony Prasetiantono mengatakan  pada 1998 fundamental Indonesia dalam kondisi aman. Namun pemerintah luput mencatat utang luar negeri swasta sehingga membuat krisis ekonomi.

"Permasalahan utang luar negeri swasta, karena sistem devisa bebas, swasta boleh mengambil utang secara bebas dan tidak tercatat," ujarnya di Hotel Millenium Kebon Sirih, Jakarta, Senin, 9 Mei 2018.

Ia menilai ketika utang yang jatuh tempo secara bersamaan membuat cadangan devisa hanya berada di level USD20 miliar dan membuat rupiah terdepresiasi.

"Fundamental itu harus diuji betul. Utang luar negeri swasta harus dicatat pada Jakarta International Trade Fair (JITF)," tambahnya.

Dengan pencatatan tersebut, kata dia, pemerintah dapat mengatur utang dan mengetahui jatuh temponya, sehingga terkendali. Lebih lanjut, kondisi permasalahan fundamental saat ini menjadi permasalahan sejak 1998, karena struktur ekonomi berorientasi pada ekspor.

"Indonesia harus bergantung pada Foreign Direct Investment (FDI), bukan pada hot money atau arus modal spekulatif karena dapat masuk dan keluar dari pasar. Devisa masuk ke kita masih mengandung hot money dan bukan ekspor," tutur dia.

Indonesia harus melihat negara dengan ekonomi yang baik karena berorientasi pada ekspor. Seperti negara wilayah Asia timur. "Negara itu bisa menghimpun cadangan devisa yang besar. Itu menjadi kelemahan Indonesia," tutupnya.



(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id