Kombinasi Faktor Domestik dan Global Bikin Rupiah Perkasa
Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Medcom.id/Desi Angriani)
Jakarta: Bank Indonesia (BI) menyebut penguatan nilai tukar rupiah hingga menyentuh level Rp14.500 per USD ditopang oleh respons positif dalam dan luar negeri. Dari sisi domestik, penguatan rupiah dikarenakan capaian pertumbuhan ekonomi triwulan III, rendahnya angka inflasi, dan penerapan instrumen Domestic Non Delivery Forward (DNDF).

"Kalau dalam negeri pertumbuhan ekonomi yang melebihi perkiraan, inflasi rendah, dan juga kepercayaan terhadap kebijakan pemerintah termasuk juga mulai beroperasinya DNDF, itu cukup baik," kata Gubernur BI Perry Warjiyo, di Kompleks Gedung Bank Indonesia, Jakarta, Jumat, 9 November 2018.

Perry mengungkapkan volume akumulasi DNDF sejak diterapkan pada Oktober lalu mencapai USD115 juta. Hal tersebut juga didukung oleh keseimbangan antara suplai dan permintaan. "Volume kalau sejak berlakunya domestik itu USD115 juta dan suplai permintaan juga bergerak sangat seimbang. Apa yang kita lihat betul-betul mekanisme pasar," tuturnya.

Untuk faktor global, Perry bilang, lebih disebabkan meredanya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok disertai oleh euforia kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu sela di negeri Paman Sam itu.

"Baik global dan domestik tadi mendorong nilai tukar rupiah menguat dan stabil. Semua sesuai mekanisme pasar," imbuh dia.

Ia memastikan BI tidak melakukan intervensi apapun ke pasar keuangan. Penguatan rupiah berjalan sesuai mekanisme pasar. Apalagi perbankan, korporasi, dan pemodal asing gencar melakukan transaksi domestik.

"Kebijakan kita terhadap nilai tukar sesuai mekanisme pasar," pungkasnya.



(ABD)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id