Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

BI Beberkan Alasan Keperkasaan Rupiah Melawan USD

Ekonomi bank indonesia
Husen Miftahudin • 10 Januari 2020 18:40
Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo membeberkan tiga alasan keperkasaan rupiah melawan dolar Amerika Serikat (USD). Mata uang Garuda terus menunjukkan taringnya, bahkan kini berada di bawah Rp13.800 per USD.
 
Perry menyebutkan alasan pertama, nilai tukar rupiah konsisten dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang semakin membaik. Fundamental ekonomi RI tercermin dari optimistis bank sentral terhadap perkiraan pertumbuhan ekonomi domestik yang tahun ini tumbuh di kisaran 5,1 persen hingga 5,5 persen.
 
"Selain itu inflasi rendah, terjaga, dan di kisaran sasaran tiga persen plus minus satu persen. Selanjutnya stabilitas eksternal yang terjaga, dalam arti current account deficit (CAD) terjaga di antara 2,5 persen hingga tiga persen PDB (Produk Domestik Bruto)," ujar Perry di kompleks perkantoran Bank Indonesia, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat, 10 Januari 2020.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Tak hanya itu, tambah Perry, fundamental ekonomi Indonesia juga tercermin dari pembiayaan CAD yang akan lebih besar dari surplus neraca modal yang juga diperkirakan mengalami peningkatan. Terakhir, berkaitan dengann cadangan devisa yang tinggi dan mencerminkan stabilitas eksternal.
 
Kedua, penguatan rupiah ini juga seiring dengan konsisten dan berlangsungnya mekanisme pasar secara baik. Suplai atau pasokan valuta asing (valas) lebih tinggi dari sisi permintaan, adapun pasokan tersebut berasal dari para eksportir yang menjual devisanya dan dari derasnya aliran modal asing masuk.
 
"Pasokan dari kedua sumber ini lebih dari mencukupi, permintaan-permintaan valas dari importir maupun kebutuhan-kebutuhan yang lain. Jadi kedua, penguatan rupiah ini konsisten dengan mekanisme pasar yang berlangsung semakin baik dengan suplai pasokan valas yang lebih besar dari permintaan," ucapnya.
 
Terakhir, adanya sinergi kebijakan antara pemerintah dan Bank Indonesia. Sinergi kebijakan ini berkomitmen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai fundamental dan mekanisme pasar.
 
"Ini sudah kami buktikan, tidak hanya di 2019 tapi juga 2018, rupiah bergerak stabil, bergerak sesuai dengan fundamental, bergerak sesuai mekanisme pasar. Dan BI tentu saja terus akan mengawal rupiah agar sejalan dengan fundamental, sejalan dengan mekanisme pasar," pungkas dia.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif