Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Arif)
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara. (FOTO: Medcom.id/Arif)

BI Konservatif Hadapi Kemungkinan Naiknya Suku Bunga AS

Ekonomi bank indonesia the fed
Nia Deviyana • 16 November 2018 15:43
Jakarta: Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diprediksi akan terus terjadi hingga 2019 seiring prediksi naiknya suku bunga Federal Reserve (The Fed). Melihat hal ini, Bank Indonesia (BI) memilih mengambil kebijakan konservatif, kendati pelaku pasar meyakini suku bunga The Fed hanya akan naik satu hingga dua kali.
 
"BI mengambil conservative stance bahwa kemungkinan The Fed akan menaikkan sampai tiga kali, sehingga kita harus tetap prudent," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara dalam diskusi bersama Iluni FEB UI di Graha Niaga, Jakarta, Jumat, 16 November 2018.
 
Langkah ini tentu berkaca pada kondisi tahun ini. Di mana sebelumnya The Fed memprediksi akan ada kenaikan suku bunga hingga empat kali.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Waktu awal 2018 juga seperti itu. The Fed bilang naik empat kali, pasar enggak percaya dan memprediksi hanya dua kali. The Fed benar (naikkan suku bunga acuan) dan market menyesuaikan diri, kemudian terjadi penguatan USD," paparnya.
 
Adapun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sepekan terakhir terlihat menguat. Mengutip Bloomberg, Jumat, 16 November 2018, nilai tukar rupiah perdagangan pagi dibuka melonjak ke Rp14.622 per USD.
 
Sedangkan day range nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp14.572 hingga Rp14.622 per USD dengan year to date di 7,64 persen. Sementara, menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.367 per USD.
 
Rupiah sempat tercatat depresiasi pada triwulan III dan Oktober 2018 dan kemudian menguat pada November 2018. Gubernur BI Perry Warjiyo juga mengatakan pelemahan rupiah di triwulan III dan Oktober 2018 tak lepas dari ketidakpastian pasar global.
 
"Secara point to point, rupiah melemah sebesar 3,84 persen pada triwulan III-2018 dan 1,98 persen pada Oktober 2018 akibat ketidakpastian ekonomi global," ujar Perry, belum lama ini.
 

 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif