Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. (FOTO: Medcom.id/Husen Miftahudin)

Jaga Likuiditas Perbankan, BI Operasi Moneter

Ekonomi perbankan bank indonesia
Nia Deviyana • 01 Maret 2019 18:19
Jakarta: Bank Indonesia (BI) memastikan tetap mempertahankan suku bunga acuan atau BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI-7RR) sebesar enam persen. Namun, BI berjanji bakal menambah likuiditas di perbankan melalui operasi moneter.
 
"Sejak Desember kita terus melakukan ekspansi likuiditas dengan operasi moneter, khususnya melalui term repo maupun swap valas," ujar Gubernur BI Perry Warjiyo di Kompleks Perkantoran BI, Jakarta, Jumat, 1 Maret 2019.
 
Perry menegaskan pihaknya terus berkomunikasi dengan bank untuk memastikan likuiditas cukup dan bank bisa menyalurkan kredit. Dia mengatakan, BI melakukan operasi moneter kontraksi pada bank yang kelebihan likuiditas dan ekspansi pada bank yang memerlukan likuiditas.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau kontraksi kami dorong reverse repo, kalau ekspansi kita melakukan term repo dan swap valas," jelas dia.
 
Adapun kebijakan suku bunga acuan diarahkan untuk menopang stabilitas ekonomi dari tekanan eksternal pada 2019. Upaya ini juga dimaksudkan otoritas agar mampu mengendalikan defisit transaksi berjalan dan menarik aliran modal asing ke Tanah Air.
 
Pada tahun ini, BI memperkirakan penyaluran kredit tumbuh pada kisaran 10-12 persen secara tahun ke tahun atau year on year (yoy). Sementara, bank sentral memproyeksi Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sekitar 8-10 persen yoy.
 
Ekonom Destri Damayanti pernah menyebutkan suku bunga acuan saat ini merupakan posisi yang ideal bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Menurutnya, era suku bunga tinggi menyiratkan bahwa Indonesia tengah menuju kondisi normal yang baru atau new normal era.
 
Di sisi lain, lanjut Destri, perkiraan penaikan suku bunga acuan the Fed sebanyak dua kali pada 2019 menjadi angin segar bagi Indonesia. Sebab, kondisi tersebut secara tidak langsung membawa dampak positif bagi pasar keuangan lantaran imbal hasil AS tak jauh berbeda dengan Indonesia.
 
Berbeda dengan kondisi 2018. Di tahun itu, gejolak ekonomi global menyeret BI menaikkan suku bunga sebanyak enam kali. Dari Mei hingga Desember, suku bunga acuan naik 175 bps, dari 4,5 persen menjadi enam persen.
 

(AHL)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif