Ilustrasi. Foto: dok MI.
Ilustrasi. Foto: dok MI.

Imbas Korona, Pertumbuhan Ekonomi RI Diramal Tak Tembus 5%

Ekonomi pertumbuhan ekonomi Virus Korona
Husen Miftahudin • 12 Februari 2020 16:14
Jakarta: Direktur Eksekutif Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah meyakini wabah virus korona berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi domestik. Bahkan dia meramal pertumbuhan ekonomi RI tahun ini sulit menembus lima persen.
 
"Dengan virus korona ini kita bisa meyakini (pertumbuhan ekonomi) akan di bawah target, bisa di bawah lima persen. Ini dengan asumsi kalau virus korona ini berlarut-larut dan pemerintah tidak melakukan respons," ujar Piter dalam diskusi di ruang rapat Fraksi Partai NasDem DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 12 Februari 2020.
 
Menurutnya, respons pemerintah dengan mengeluarkan kebijakan yang tepat sangat diperlukan di tengah mewabahnya virus korona. Dengan demikian, Piter optimistis target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen di 2020 bakal tercapai.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Angka (pertumbuhan ekonomi domestik tahun ini) akan sangat bergantung kepada responsnya pemerintah. Pemerintah melakukan respons kebijakan yang pas enggak, kalau kebijakannya pas, target pertumbuhan ekonomi 5,3 persen masih sangat mungkin untuk dicapai," tuturnya.
 
CORE memprediksi pertumbuhan ekonomi RI tahun ini tanpa adanya virus korona hanya berada pada kisaran 5,1 persen. Dengan asumsi, pemerintah tidak melakukan terobosan kebijakan dan pertumbuhan konsumsi domestik yang melambat.
 
Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah memperbaiki postur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2020 dengan menyinergikan kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Tujuannya, agar postur pembaruan APBN bisa benar-benar mendorong pertumbuhan ekonomi domestik.
 
"Saya mengusulkan agar APBN harus ditinjau, karena APBN itu adalah tools dalam rangka pemerintah untuk mengoptimalkan pertumbuhan ekonomi kita. Oleh karena itu kita harus mengoptimalkan peran APBN dalam rangka untuk mendorong kembali pertumbuhan ekonomi kita," tegas dia.
 
Sebelumnya Kementerian Perdagangan (Kemendag) memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mengalami perlambatan sekitar 0,23 persen di 2020 ini. Proyeksi itu menyusul perkiraan penurunan ekonomi Tiongkok sebesar satu persen sebagai dampak wabah virus korona.
 
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag, Kasan mengatakan prediksi tersebut lebih rendah dari Bank Dunia yang memperkirakan penurunan ekonomi RI sekitar 0,3 persen.
 
"Perhitungan tim saya, bukan 0,3 persen. Setiap satu persen GDP (gross domestic product) Tiongkok, penurunannya di Indonesia 0,23 persen. Bukan menghibur, tapi berdasarkan fakta-fakta yang kami temukan secara ilmiah," kata Kasan di Jakarta, Selasa, 11 Februari 2020.
 
Kasan menjelaskan bila pertumbuhan ekonomi Tiongkok turun dari enam menjadi lima persen, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok 5,3 persen tahun ini juga dihitung akan terkoreksi.
 
Selain itu, Kasan mencatat dampak dari virus korona juga akan menyasar pada kinerja ekspor dan impor Indonesia pada Januari 2020. Begitu pula di sejumlah negara lainnya.
 
"Sesi kemarin, Bea Cukai Tiongkok belum merilis ekspor berapa, impor berapa. Tapi, ada beberapa negara yang juga mitra dagang kita yang sudah merilis datanya pada Januari, semuanya turun, dan sangat signifikan," terangnya.
 

(DEV)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif