Ilustrasi. Foto : MI/MOHAMAD IRFAN.
Ilustrasi. Foto : MI/MOHAMAD IRFAN.

Kebijakan Fiskal untuk Merangsang Pertumbuhan Ekonomi

Ekonomi ekonomi global
Annisa ayu artanti • 10 Oktober 2019 16:57
Jakarta: Bank Dunia merekomendasikan sejumlah langkah kepada negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik untuk mengoptimalkan kebijakan fiskal dan moneter di saat kondisi ekonomi global sedang bergejolak. Pemanfaatan kebijakan fiskal dan moneter tersebut ditujukan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi serta menjaga kesinambungan fiskal dan utang.
 
Ekonom Utama Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik Andrew Mason menjelaskan negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik akan mendapatkan manfaat dengan mempertahankan keterbukaan perdagangan serta memperdalam integrasi perdagangan di wilayah regional.
 
"Ini termasuk reformasi peraturan yang meningkatkan iklim perdagangan dan investasi untuk menarik investasi dan memfasilitasi pergerakan barang, teknologi, dan keterampilan," kata Andrew di Kantor Bank Dunia, Jakarta, Kamis, 10 Oktober 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan Weathering Growing Risk, laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi Oktober 2019, ia kembali mengingatkan, risiko penurunan pertumbuhan ekonomi di kawasan akan lebih dalam.
 
Bank Dunia memprediksi pertumbuhan ekonomi Asia Timur dan Pasifik tahun ini hanya sebesar 5,8 persen, atau lebih rendah 0,2 persen dari prediksi sebelumnya pada April lalu.
 
Sementara untuk prediksi pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan sebesar 5,7 persen, lebih rendah 0,3 persen dari prediksi April lalu. Kemudian pada 2021 pertumbuhan di kawasan ini diprediksi akan kembali melambat ke 5,6 persen.
 
Selain itu, ia juga bilang, ketegangan perdagangan yang bekepanjangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok juga akan terus menciptakan ketidakpastian yang tinggi dan menekan pertumbuhan investasi
 
"Perselisihan perdagangan Amerika Serikat dan Tiongkok yang sedang berlangsung, bersama dengan melambatnya pertumbuhan global, juga meningkatkan kebutuhan bagi negara di kawasan untuk melakukan reformasi agar produkstivitas meningkat dan mendorong pertumbuhan," jelas dia.
 
Di sisi lain, lanjut dia, tingkat utang yang tinggi di beberapa juga akan membatasi kemampuan negara di kawasan untuk menggunakan kebijakan fiskal dan moneter.
 
"Setiap perubahan mendadak dalam kondisi keuangan global dapat berdampak pada biaya pinjaman yang lebih tinggi untuk kawasan tersebut, mengurangi pertumbuhan kredit, dan semakin membebani investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi di kawasan," tukas dia.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif